Senin, 30 Juni 2014

Semalam Sebelum Ramadhan



Semalam sebelum ramadhan, adalah malam yang paling saya  tunggu-tunggu. Apakah saya masih hidup saat adzan Maghrib terakhir di bulan Sya’ban? Siang tadi aku mendengar ceramah dari ustadz Maulana di tivi. Jika mendengar seruan adzan Maghrib di akhir bulan Sya’ban, maka disunahkan berdoa, “Marhaban Ya Ramadhan” lalu sujud syukur dan mulai berniat puasa untuk satu bulan ke depan, disusul doa agar kita dikuatkan untuk menjalani semua amalan di bulan Ramadhan.


Semalam sebelum ramadhan pula, masjid selalu ramai. Setelah sholat Maghrib pasti ada para ibu membawa buceng. Buceng itu adalah makanan berupa nasi dan lauk pauknya yang ditempatkan di nampan. Setelah berdoa bersama, maka buceng ini akan kami makan bersama pula. Dalam tradisi, makanan yang dibawa ke masjid untuk dimakan bersama ini dinamakan mengengan. Setahu saya mengengan berasal dari kata Megeng yang artinya mempersiapkan, atau menahan. Mempersiapkan diri menyambut bulan ramadhan dan mempersiapkan diri pula melaksanakan puasa selama satu bulan penuh dengan menahan lapar dan terus berlomba dalam kebaikan.



Saya melihat, dari agenda megengan ini, masyarakat begitu rukun. Meski lauk-lauk ditiap buceng berbeda, ada yang ayam, ada yang telur, bahkan ada yang hanya tahu tempe, tapi tetap dibagi dan dimakan bersama-sama. Meski hanya beralaskan daun pisang saja, meski sederhana, namun jika di makan bersama-sama, apalagi dengan rasa bahagia menyambut semalam sebelum ramadhan. Nikmat sekali rasanya! Alhamdulillahh


Di desa saya, mayoritas memulai puasa pada hari Minggu, tanggal 29 Juni 2014. Sangat sedikit yang berpuasa hari Sabtu mengikuti Muhammadiyah. Bisa dibilang desa saya mayoritas warga NU. Saya pribadi dan keluarga, sama sekali tidak mempermasalahkan kultur ini. Ayah dan ibu saya bukanlah penggiat Anshor maupun Muslimat, bukan pula Aisiyah. Jika ditanya keluarga kamu NU atau Muhammadiyah? Maka sudah pasti saya akan menjawab "Saya Muslim" itu saja cukup. Kalau ada yang ngundang yasinan ya datang, kalau di undang pengajian Muhammadiyah ya datang. Kami terbuka dengan itu. Mungkin hal semacam inilah yang membentuk pola pikir saya bahwa NU dan Muhammadiyah itu tak lebih dari organisasi keagamaan. Bukan aliran atau golongan islam seperti kebanyakan orang katakan, karena kita sejatinya adalah muslim.


Saya sangat menyesalkan, ketika ada pihak yang berkata, "Kalau kamu ikut nyekar, megengan, yasinan, tahlilan berarti kamu NU" Kenapa semua itu harus identik dengan NU? Kenapa ketika saya dan keluarga saya mengikuti kultur tempat saya tinggal lalu saya di cap NU? Padahal baik ayah, ibu, saya, maupun adik-adik tak ada yang terdaftar sebagai anggota NU. Sebenarnya tak masalah dengan NU atau Muhammadiyah. Toh bagi saya terutama, keduanya sama, sebuah organisasi.


Nyekar, adalah salah satu tradisi pula sebelum ramadhan. Ziarah ke pusara orang-orang terdahulu. Banyak sekali penjual bunga dipinggir jalan, pemakaman pun mulai ramai, tak lagi hening dan mencekam. Dari tradisi ini kita belajar tentang sebuah kecerdasan yang paling agung, yaitu mengingat kematian. Siapapun yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Jika tak nyekar pun tak masalah, toh nyekar bukan syariah. Nyekar pun juga tak apa-apa, karena ziarah kubur juga memberikan tamparan dan kesadaran akan kematian. Kewajiban kita sebagai generasi dari yang telah mati adalah mendoakannya, bukan meratapi kepergiannya. Medoakan itu setiap saat, tak harus datang ke makam pun tak jadi soal. Sekali lagi ini hanya soal budaya.


Bagi saya, baik megengan, yasinan, tahlilan, itu adalah produk budaya. Budaya yang diciptakan para wali untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa. Para Wali sangat cerdas, dengan kultur tersebut masyarakat tak merasa digurui, masyarakat tak merasa terpaksa menerima islam, mereka menerima Islam karena mereka nyaman dengannya. Ketika budaya-budaya jaman dahulu itu ada sampai malam ini, tentu tak bisa dipungkiri karena masyarakat masih menjaganya dan melaksanakannya. Jika masyarakat masih melaksanakannya, maka masyarakat nyaman, tidak merasa risih apalagi terancam.


Saya melihat, megengan malam ini, meski sederhana, tapi berhasil menyatukan kami dalam makan bersama, dalam doa dan kesyukuran yang sama, dalam cerita-cerita dan impian tentang ramadhan dan idul Fitri nanti. Indah bukan? Yang indah ini, meski tak ada dalam Al-Qur'an kata megengan, tak ada salahnya jika masyarakat masih menjaga. Karena di dalamnya ada implementasi perintah Allah untuk saling berbagi, memberi dan rukun tetangga dan bersyukur atas nikmat umur dan rezeki. Implementasi nilai itu dengan berbagai cara, salah satunya dengan megengan.



Jika masyarakat merasa tidak nyaman dengan budaya yang pernah ada, pasti lambat laun itu akan ditinggalkan dan dilupakan, seperti tradisi Karbala yang meyakitkan dan berdarah itu. atau tradisi Khifadh (khitan wanita) yang kini mulai tak ada. Selama itu baik dan memberi kenyamanan dan memelihara kerukunan, saya rasa tak ada salahnya untuk dipertahankan. Saya menuliskan ini, bukan karena saya NU atau Muhammadiyah. Saya seorang muslimah yang sangat kagum dengan budaya Indonesia dan saya sangat menyukai kebersamaan ini, kerukunan ini dan budaya-budaya yang agung di tanah Jawa tentang Islam


Diluar sana, di masjid yang tadi menggelar megengan, sudah mulai terdengar adik-adik mempersiapkan musiknya untuk ronda membangunkan sahur tiga jam lagi, sepertinya saya harus segera terlelap, karena tentu nanti mempersiapkan sahur pertama kami. Selama Malam, Terima kasih sudah membaca catatan saya malam ini. Semalam sebelum ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga Allah sellau membimbing kita di jalannya. Amin.


Salam

Rizza Nasir

Akhir Sya'ban 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar