Sabtu, 03 September 2011

[Kenangan Masa Kecil] Masak-Masakan

Kira-kira umur saya baru empat tahun saat itu, ketika ibu saya membelikan mainan berupa replika alat-alat masak, ada panci kecil, kompor, pisau dan instrumen dapur lainnya, bahannya dari plastik, berwarna-warni. Ketika itu saya menyebutnya masak-masakan.  Mainan seperti ini banyak di jumpai di pasar-pasar tradisional.

Sebelum masuk TK saya bermain sendirian. Karena saya anak pertama dan adik saya kala itu masih bayi, praktis tak ada kawan saya bermain masak-masak-an. Meskipun saya bermain seorang diri namun ‘dunia’ saya sangat riuh. Terkadang saya menirukan bunyi aneka bahan makanan ketika proses memasak. Mulut kecil saya berbunyi sreeengg menirukan bunyi sepotong tempe yang meluncur di penggorengan atau  blukuthuk.....blukhuthuk untuk air yang mendidih. Kadang-kadang saya juga membawa sebuah boneka, yang dalam film masa kecil part masak-masak-an berperan sebagai anak saya. Saya memperlakukan boneka itu seolah-olah ia hidup. Cup....cup...jangan nangis Dek, makan dulu gih.....aaaaa...aem. Sambil masak-masak-an mulut saya tak berhenti berbicara.


Permainan ini terus berlanjut hingga saya memasuki sekolah dasar. Teman bermain saya tak hanya boneka sekarang. Setiap hari setelah pulang sekolah beberapa teman  bermain di runah saya. Ya.. bermain masak-masak-an. Tak hanya perempuan, laki-lakipun ada. Rumah saya yang awal-nya sudah ramai oleh celoteh saya sekarang semakin ramai.

Bermainnya pun tak lagi memakai replika alat masak plastik. Tapi alat masak sungguhan Kawan!!!. Kami memborong alat-alat masak ibu di dapur. Kami tanya ibu, apakah alat tersebut masih dipakai atau tidak. Tentu saja kebanyakan alat tersebut masih layak pakai. Tapi memang dasar kami anak-anak nakal. Meskipun sudah diberi tahu alat mana yang boleh untuk ‘dapur bayangan’ namun tak jarang kami pun mengambil alat-alat yang masih layak. Tentu saja ibuku mencak-mencak, untung ada Mbah Putri yang selalu membela kami anak-anak ingusan yang mulai badung. Akhirnya terjadilah MoU diantara kami dengan ibu bahwa alat masak yang masih laik pakai itu harus kembali seperti awal kami meminjam. Artinya, kami harus belajar mencuci perkakas itu sendiri dan mengembalikan ke tempat semula. Kami pun manggut-mangut

Alat masak kami kini benar-benar nyata. Ada piring, pisau, panci kecil yang pantatnya sangat hitam saking seringnya dipakai memasak ditungku, sendok garpu, ember. Dapur kami adalah di bawah pohom rambutan samping rumah mbah. Disitu adalah tempat yang nyaman bagi kami. Pohon rambutan yang rimbun, pohon rambutan itu tak sendirian menjadi saksi masa kecilku, ada pohon cempedak, janmbu darsono,  jambu air, sirsak dan jambu benik. Jambu inilah yang mendominasi kebun mbah. Ada sekitar dua puluh pohon benik tertanam disitu, buahnya yang merah merekah dan bentuknya yang imut-imut ditambah lagi pohonnya yang tak terlalu tinggi menjadikan jambu benik adalah buah favorit kami di kebun ini.

Seingat saya ada aneka ‘masakan’kami kala itu. Sayur lodeh versi kami adalah dedaunan yang banyak tumbuh disitu . Daun itu kami iris-iris kecil dan dimasukkan ke panci ditambah air yang diambil dari kolam ikan di samping pohon rambutan dengan ember kecil. Masih lekat diingatan saya bagaimana ‘resep’ kacang telur versi kami. Kacang yang kami maksud buah dari tumbubuhan liar berwarna merah dan hijau, bentuknya kecil dan keras. Sedangkan kulitnya adalah tanah lembek, tanah yang sebelumnya telah kami campur dengan air. Kami pun memisahkan wadah kacang dan kulitnya. Saya sangat senang ketika didaulat menjadi kokinya. Saya menirukan gaya Sisca Soetomo, koki yang memadu sebuah progran memasak di sebuah stasiun televisi swasta. Setiap hari ibu saya selalu menyempatkan diri nonton program itu Bila sekarang koki perempuan yang terkenal adalah Farah Quinn maka Sisca Soetomolah yang merajai program memasak kala itu. Cara membuat kacang telur versi kami adalah (Please....jangan tertawa ya hihi)

  1. Biji dibersihkan dengan air yang kami ambil di kolam ikan. Amis banget
  2. Kami masukkan ‘kacang-kacang’ itu pada wadah yang telah berisi tanah lembek.Kami aduk-aduk dengan tangan telanjang.
  3. Setelah tercampur rata kami campur ‘kacang itu dengan tanah kering
  4. Dan yang terakhir kami goreng. Pura-pura

Nah pemirsa,  inilah kacang telur hasil buatan kita hari ini. Anda bisa melihat resep ini di majalah NOVA yang terbit setiap minggunya. Sampai Jumpa”, begitulah cara saya menutup acara masak menirukan gaya Sisca Soetomo.

            Ketika lelah mendera, maka kami akan berhenti bermain masak-masakan dan beralih ke pohon-pohon buah. Teman saya segera memanjat pohon jambu benik dan dan saya methangkring di sela-sela batang pohonnya yang bercabang dua dari bawah sambil menegadahkan tangan menangkap buah yang dijatuhkan. Kadang kami berjingkat-jingkat, mengibas-ngibaskan pakaian saat semut-semut kecil berwarna hitam yang ‘mendiami’ pohon benik marah dan merubung kami. Tak jarang saya maan jambu yang di dalamnya ada kawanan semut hitam itu. Kontan saja saya langsung meringis merem melek. Kombinasi jambu yang segar ditambah semut-semut di dalamnya.Hmmm....rasanya pedas minta ampun. Bila bosan dengan jambu benik maka kami beralih ke jambu air. Temanku yang laki-laki mendapat bagian memanjat pohonnya. Karena pohon jambu ini tingginya hampir menyamai rumah Mbah. Sementara kami para perempuan bertugas membentangkan selendang yang saya pinjam langsung dari empunya,  Mbah Putri tercinta. Empat ujung selendang kami pegang kuat-kuat sambil mendongakkan kepala. Bila arah jambu jatuh ke kanan maka kami ‘tim selendang’ akan bergerak ke kiri. Begitu seterusnya sampai teman kami ‘tim pemanjat’ turun dari pohon. Kepala kami ‘tim selendang serasa patah karena terlalu banyak mendongak, berkali-kali kami menekukkan kepala kekanan dan kekiri, pegal sekali rasanya.

Permainan masak-masakan kami tak berhenti sampai disitu. Kami mulai berani mewujudkan dapur yang asli. Dengan menggunakan empat buah batu bata bekas yang kami susun dua dua berjajar dengan jarak kira-kira tujuh cm di bagian tengahnya. Itulah luweng  kami. Jarak yang ada diantara batu-bata itu kami isi macam-macam benda yang bisa terbakar sebagai bahan bakarnya. Tak hanya kayu dan ranting yang berserakan di kebun tapi juga plastik-plastik yang kami cari langsung di joglangan. Dengan bermodal sekotak kecil korek api yang kami ambil di dapur mulailah acara masak kami. Masak yang sesungguhnya Kawan !!!. Kali ini mulutku tak harus berbunyi blukuthuk....blukuthuk...menirukan air mendidih. Dan tak harus berbunyi sreng....sreng...menirukan bunyi wajan yang bekerja. Semuanya berbunyi secara alami karena ada api sebagai sumber panasnya.

            Bermain masak-masakan seperti ini sering membuatku lupa waktu. Kadang ibuku harus berteriak-teriak dari dalam rumah, karena sudah masuk waktu Ashar dan saatnya mengaji Al-Qur’an di masjid dan aku masih asyik bermain. Bisa dipastikan ibuku bersungut-sungut setelah aku bermain masak-masakan. Bagaimana tidak, pipiku coreng moreng terkena jelaga, baukupun asem plus sangit karena seharian bermain dibawah terik matahari dan asap mengepul dari luweng amatir. Ditambah lagi kami hampir selalu meninggalkan begitu saja alat-alat masak di kebun tanpa membereskannya terlebih dulu. Jangan ditiru ya..hehe

            Menuliskan cerita ini membuat saya semakin paham bahwa manusia punya fitrahnya masing-masing. Saya yang seorang perempuan meskipun masih kecil kala itu sangat gemar bermain masak-masakan yang notabene pekerjaan perempuan meskipun tak dipungkiri banyak juga lelaki yang pandai memasak. Sementara itu dua adik laki-laki saya senang bermain layang-layang, mobil-mobilan dll.

            Masak-masakan, memang hanyalah sebuah permainan, namun bagi saya permainan jenis membawa banyak pelajaran bagi hidup saya kala itu. Dimana saya belajar untuk bersosialisasi dengan berbagai teman, laki-laki dan perempuan yang silih berganti menjadi partner dalam ‘film ‘ masa kecil saya. Sekarang, sangat jarang saya temukan anak-anak yang bermain masak-masakan kebanyakan anak kecil lebih senang bermain game dari handphonenya. Entahlah, apakah masih ada penjual mainan diluar sana yang menjual replika perkakas dapur dari plastik seperti yang saya miliki lima belas tahun lalu, kalaupun masih ada penjualnya, apakah masih ada anak kecil yang berkeinginan memilikinya???


Sebuah kenangan masa kecil di sebuah desa di selatan Kabupaten Kediri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar