Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Desember 2014

Sekelumit Tentang Penghentian Kurikulum 2013



Melalui tulisan ini, saya ingin bicara pada Anda yang merasa penghentian K-13 adalah sebuah langkah yang salah, penghentian ini konspirasi atau penghentian ini tak bisa terdefinisi karena semau udel Jokowi.

Saya bicara atas nama seorang mahasiswa yang belajar di sebuah jurusan pendidikan guru sekolah dasar. Saya belum mempunyai pengalaman mengajar bertahun-tahun seperti Anda. Ya, seperti Anda, yang barangkali ada yang jam mengajarnya sudah belasan tahun dari mulai Kurikulum 1994, KBK, KTSP sampai Kurikulum 2013 sekarang ini. Anda tentu merasakan, bagaimana rasanya menerima instruksi perubahan kurikulum, lalu Anda didaftarkan mengikuti seminar- seminar dan pelatihan. Susah payah Anda belajar memahami kurikulum yang baru itu. Sebagai guru yang baik Anda tentu punya semangat yang tinggi untuk memahami kurikulum baru itu. Setelah Anda baru saja menguasainya dan menerapkan setahun sampai dua tahun, tiba-tiba kurikulum ganti lagi, bagaimana rasanya?

Rabu, 06 Agustus 2014

Rencana (Pasca) Sarjana #2




Ternyata menjadi sarjana itu rasanya seperti ini ya? Rasanya campur aduk. Antara senang, sedih dan beban. Senang karena tanggung jawab sebagai mahasiswa itu sudah terselesaikan, tanggung jawab pada orang tua untuk kuliah juga sudah dituntaskan. Sedih, karena harus berpisah dengan teman-teman di kampus. Tak bisa lagi berbincang dan bercanda dengan mereka. Beban, karena menjadi sarjana adalah tanggung jawab besar

Saya sempat menuliskan, jika nanti lulus kuliah saya akan langsung melanjukan S2. Kalau Allah merestui saya ingin kuliah di Aussie atau Jepang. Sebuah negara impian saya, atau saya ingin pergi ke Jogja. Sejak lulus aliyah saya sudah bercita-cita kuliah disana, menjadi penerus ibu. Tapi ternyata orang tua belum mengizinkan. Kala itu kota kedua pilihan saya adalah Malang, jadilah saya kuliah di kota itu. UIN Maulana Malik Ibrahim malang pada jurusan PGMI. Alhamdulillah 46 bulan di Malang saya selesaikan S1 tersebut.

Sekarang sudah wisuda. Lalu? Ternyata saya harus berpikir ulang jika harus S2. Tabungan saya untuk S2 sudah terpakai untuk menambahi biaya rumah sakit ayah seminggu sebelum saya diwisuda. Hanya tinggal delapan ratus ribu saja. Lagipula, siapa yang akan menjaga ayah di rumah? Ibu bekerja, adik-adik sekolah. Apakah saya juga akan pergi? Akhirnya saya kubur dalam-dalam impian melanjutkan S2 sampai waktu yang tidak ditentukan. Untuk S2, saya harus mulai menabung lagi dari awal. 

RENCANA (PASCA) SARJANA



Wisuda, memakai toga, berfoto bersama keluarga, mendapatkan ucapan selamat dari teman dan saudara. Lalu apa? Setelah seminggu berlalu hal membahagiakan itu tinggal kenangan. Ya, sadis sekali ya bahasanya, masak perjuangan skripsi yang sampai jungkir balik itu dibilang tinggal kenangan? Ya, memang begitulah adanya!

Foto wisuda yang membahagiakan itu oleh sebagian orang akan ia pajang di rumahnya. Sebagai kebanggaan, kalau ada tamu yang datang, sebagian orang lain menyimpannya, karena malu dilihat banyak orang. Ah orang memang macam-macam karakternya, tapi anehnya tanggapan orang lain setelah melihat saudaranya wisuda sarjana selalu sama, “sekarang kerja dimana?”, “Sibuk apa nih setelah sarjana?”

Untuk itu perlu ada perencanaan hidup selanjutnya pasca memperoleh gelar sarjana, atau menyelesaikan pendidikan kita. Apa yang kita lakukan selanjutnya? Mungkin ini bisa menjadi gambaran:

1. Bekerja

Perguruan tinggi setingkat strata S1 bergelar sarjana adalah tingkatan pendidikan tinggi. Orang yang lulus dari institusi itu dengan disiplin ilmu yang diambilnya dikatakan orang yang profesional di bidangnya. Lantas apa yang dilakukan selanjutnya selain bekerja? Mengaplikasikan ilmu untuk memperoleh penghidupan, sah-sah saja. Toh hidup juga butuh uang.

**Cari pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu (ijazah yang dikantongi, itu modal!)
** Cari pekerjaan yang sesuai minatmu, karena ada pula mahasiswa yang sebenarnya kurang sreg dengan jurusan yang diambilnya. Bagaimana bisa bekerja dengan profesional kalau tidak sreg? Cari pekerjaan yang sreg di hati. Tak sesuai gelar? Tak masalah! Pintu rezeki tak hanya satu!

Disadari atau tidak, pada akhirnya seseorang yang bekerja selalu ada sisi materialis. Ingin mendapatkan uang, uang dan uang. Siapa yang tidak ingin hidup serba berkecukupan? Tapi mengejar kekayaan tentu tak akan pernah menemui tepian. Sudah dapat A masih kurang, kurang dan kurang! Manusiawi sekali. Untuk itulah perlu adanya jiwa 3 M, memberi, mengabdi dan mensyukuri.

Minggu, 19 Januari 2014

TAK AKAN ADA LAGI PUNGLI, SAATNYA SISWA BERPRESTASI


Keputusan  Pemkot Malang untuk merealisasikan program sekolah gratis telah benar-benar dilaksanakan. Diedarkannya Perwali ke sekolah-sekolah mulai Senin, 6 Januari 2014 ini tentu menjadi kabar gembira bagi semua  pelajar dan orang tua siswa. Bagaimana tidak, Pemkot kota Malang menggelontorkan dana 175 Milyar untuk keterjaminan pendidikan di Kota Malang.

Dana tersebut tentu saja untuk membiayai sarana prasarana pendidikan mulai dari jenjang dasar hingga menengah atas dan kejuruan serta Bosda. Imbas dari peraturan ini, sekolah tidak bisa lagi mematok pungutan pada wali murid. Pungutan itu apa? Jika jumlah uangnya ditentukan berikut batas waktunya. Sejak Perwali ini diedarkan maka tak akan ada lagi pungutan tersebut di sekolah-sekolah atau sekolah tersebut siap menerima sanksi.

Meski demikian Perwali ini tidak menutup sepenuhnya partisipasi dari masyarakat. Diluar keperluan biaya rutin, masyarakat masih bisa memberikan sumbangan atau sedekah. Ingat! Yang namanya sumbangan itu seikhlasnya yang memberi, tak ada patokan apalagi batas waktu. Adanya perwali ini menindak penyimpangan dan mengajak orang tua bersedekah kepada sekolah jika orang tua menginginkannya. Bukankah memberi untuk kepentingan menuntut ilmu berarti pahalanya sama dengan yang sedang menuntut ilmu?

Jumat, 17 Januari 2014

DICARI! LELAKI YANG SIAP JADI GURU SD



Dicari! Lelaki yang siap menjadi guru SD. Kamukah orangnya? Jika YA,  siapkan dirimu, anak-anak membutuhkanmu.

Berapa banyak guru SD-mu yang kamu panggil Pak? Pak Guru, berapa? Sudah bisa dipastikan, tidak ada yang menjawab lebih dari 5 atau jika lebih dari 5 guru lelaki di sekolah itu, sudah pasti itu SD bonafit, atau SD milik yayasan yang dikenal banyak orang. Sekarang coba tengok di SD di desamu, tengok SD-SD pinggiran. Berapa banyak lelaki dewasa yang setiap pagi berdiri di gerbang untuk menyalami siswa-siswanya? Mungkin satu, sebagai kepala sekolah. Mungkin juga dua orang, sebagai kepala sekolah dan tukang kebun, atau tukang kebun dan guru agama saja. Sementara sisanya adalah Bu Guru. Wanita.

Memang tak dipungkiri, mengajar di tingkat dasar membutuhkan kesabaran yang ekstra, butuh ketelatenan yang super, butuh kesabaran yang melangit dan sifat-sifat itu kebanyakan dimiliki oleh wanita, atau Bu Guru. Tak sedikit pula lelaki yang memiliki sifat itu, tapi tak banyak dari mereka yang mau jadi Pak Guru. Pak Guru di sekolah dasar. Di tingkat menengah, SMP dan SMA, bisa jadi jumlah Pak Guru dan Bu Guru seimbang, atau bahkan lebih banyak Pak Guru jika di SMK. Pendidikan tingkat menengah agaknya memang lebih diminati para lelaki yang peduli pendidikan, karena anak-anak pada tingkat menengah tidak serewel anak tingkat dasar.