Kamis, 29 Oktober 2015

MBAK HAYATI, KEHILANGAN PENGLIHATAN SETELAH OPERASI CAESAR

Mbak Hayati ini kakak sepupu saya. Ibunya adalah Mbakyu ayah. Mbak Yeti, kami biasa memanggilnya begitu. Melahirkan 6 bulan lalu. Sebenarnya saat itu dokter sudah mengatakan kanndungannya baik-baik saja dan bisa lahir normal. Tapi Allah punya rencana lain, tiba-tiba saja tubuhnya panas tinggi. Gejala tipus, begitu diagnosis dokter waktu itu. Katanya bayi di rahimnya juga merasakan panas tubuhnya yang tinggi itu. Kalau tidak segera dikeluarkan khawatir tidak selamat.

Harus caesar hari itu juga. Bahkan untuk sekedar sikat gigi saja tidak boleh! Pokoknya harus sekarang secepatnya! Lahirlah bayinya. Perempuan. Bayi itu diberi nama Agya. Singkatan dari Agung dan Hayati. Selayaknya ayah dan ibu baru mereka sangat senang dengan lahirnya Agya. Agya adalah cucu keempat budhe. Empat sudah cucunya. Siapa yang tidak bahagia? Ternyata kebahagiaan ini hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah hari itu penglihatan Mbak Yeti berkurang. Terus berkurang hingga akhirnya sama sekali tidak bisa melihat. Hitam. Gelap.

Stress! Pastinya! Itu yang terjadi pada Mbak Yeti dan mungkin juga Mas Agung suaminya. Tapi saya lihat Mas Agung masih tegar, setidaknya setiap saya bertemu, tidak pernah terlihat sedih atau menangis. Meski dia tidak bisa menyembunyikan di raut mukanya. Aku khawatir!


Seminggu setelah melahirkan Mbak Yeti harus kembali opname. Panas lagi! Bahkan harus suntik insulin.  Sementara Mbak Yeti menjalani perawatan, Agya di rumah bersama buliknya. Lepas ASI,  karena ibunya terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan, dikhawatirkan itu berdampak pada Agya.  Agya harus menjadi bayi sufor sejak itu sampai sekarang.

Tak hanya penglihatannya menghitam, tetapi perutnya juga sakit. Terutama di bagian ginjalnya. Terlalu banyak obat! Mulai dari obat dokter, herbal sampai air apalah-apalah itu. Semua sudah dijalani. Kakinya jadi susah untuk berjalan. Seluruh tubuhnya seperti sakit. Tubuhnya seperti berontak. Sementara dia sering menangis sendiri bahkan teriak-teriak!

Mbak Yeti domisili di Bojonegoro dan saya di Kediri, awalnya saya tidak percaya saat ibu bercerita tentang kondisi Mbak Yeti, yang jadi kurus, tirus dan seperti kehilangan semangat hidup sejak penglihatannya hilang.  Berat badannya yang dulu nyaris sembilan puluh hanya tinggal enam puluhan saja. Saya jadi percaya, ketika Mbak Yeti sering sekali sms, “Sibuk? Telepon aku!” atau sekedar miscall. Jika sudah begitu saya paling tidak bisa bilang tidak. Dia hanya teman bicara, mendengarkan semua ceritanya, keluhan dan kesedihannya sejak penglihatan itu hilang. Dicurhati tentang hal semacam ini sungguh menyesakkan. Saya hanya bisa mendengarkan, sesekali menggodanya agar dia tertawa.

Dokter mendiagnosa dia terkena toksoplasma.  Dia juga pernah menjalani MRI. “Di MRI itu rasanya seperti di kuburan Sa, apakah begitu nanti kalau mati ya” ceritanya suatu hari. Hasil dari MRI itu bilang kalau ada masalah pada korneanya.

Dulu saya berpikir kalau ini mal praktik. Tapi Mbak Yeti sendiri bilang, “Enggak kok luka caesarku baik-baik saja”
Tapi penglihatannya hilang setelah caesar, apa itu bukan mal praktik namaya? Entahlah! Lagipula saya juga tak tahu kalau memang betul mal praktik harus menuntut siapa dan harus bagaimana. Yang jelas Mbak Yeti sudah pernah mengkonfirmasi ke dokter caesarnya. Tapi ya begitulah!

Kami memilih mengusahakannya. Mencari pengobatan. Mengikhlaskan semua ini sebagai bagian dari ujian hidup. Tak hanya bagi Mbak Yeti, tapi bagi kami semua. Setelah Mbak Yeti sakit, kami semua generasi anak-anak ini menjadi semakin akur dan klop. Alhamdulillah!

Sepuluh hari sebelum idul Fitri saya pulang dari Jogja, saya dan adik-adik langsung ke Bojonegoro untuk menengok Mbak Yeti, karena dari seluruh keluarga hanya saya yang belum menjenguknya. Benar saja. Mbak ginuk-ginuk saya itu sekarang jadi slim, sedikit tirus dan mata yang sembab. Oh!

“Mbak serius ndak bisa lihat aku? Aku pakai baju apa?” godaku
“Ireng, hahaha” dan dia masih bisa tertawa

Lalu hari itu saya bujuk dia untuk mau ikut ke Kediri. “Ayo Mbak, di Kediri biar bisa refreshing, ketemu dulur-dulur, sekalian mencoba cari penyembuhan disana” Bujukan saya manjur. Mbak Yeti ikut.

Seluruh keluarga di Kediri menyambutnya. Yang perempuan tangis-tangisan. Ibu saya, bulik saya. Semua! Tidak ada yang menyangka semua cerita pilu setelah melahirkan yang sering kami lihat di tivi itu terjadi juga pada keluarga kami.

Hari raya Idul Fitri kemarin menjadi hari raya mengharukan karena ada Mbak Yeti di Kediri. Satu sisi kami bersyukur setelah bertahun-tahun akhirnya tahun ini keluarga Bojonegoro bisa ber-idul Firi bersama di Kediri, di sisi lain kami sedih, kenapa harus seperti ini ceritanya?

Ibu saya masuk rumah tiba-tiba menangis, ibu baru saja silaturrahim dari rumah Mas Wawan. Rumah kami dekat sekali. ‘Sakumplek dulur kabeh’ “Ndang nggone Mbak Yeti Mbak” perintah ibu.
“Iya, tapi kenapa ibu nangis?’
“Mbak Yeti bilang begini sama ibu, Bulik, kapan ya PLN menghidupkan lampunya, kok dunyoku peteng, padahal kulo pengen ngerti wajahe Pak Nasir, Bulik Sri adik-adik”
“Ya Allah!”
“Wes ndang rono!”

Aku kesana, masuk ke kamarnya. Matanya masih sembab. Duduk disampingnya dan bilang, “Hei Mbak minal minul ya! Hehe” hanya bisa bilang begitu. Hanya agar dia tidak menangis. Dia hanya memeluk saya erat sekali.

Selama di Kediri itu, saya sering sekali tiba-tiba ngusilin dia di kamar, hanya agar dia tidak melamun. Saya biarkan dia bercerita apa saja.

“Padahal aku tidak punya keinginan macam-macam, aku hanya ingin menjadi istri yang baik dan ibu yang baik bagi anakku, kenapa malah begini?”

“Padahal dulu aku membayangkan, setiap istirahat sekolah aku akan pulang sebentar, menyusui bayiku”

Sejak dia sakit, saya jadi sering ke Bojonegoro, setiap kali pulang dari Jogja selalu kinthil Mas Wawan ke Bojonegoro. Seperti apa Mbak Yeti sekarang? Dan Agya sekarang? Itu yang selalu membuat saya penasaran.

Idul Adha kemarin saya kesana. Mbak Yeti sudah berbeda, raut mukanya cerah, sering tersenyum

“Sekarang aku sudah ikhlas Sa, aku sudah menerima semuanya!”

Dia sudah bisa sholat berdiri, dia sudah bisa gendong Agya, “bagi ibu yang lain menidurkan bayi adalah hal biasa, tapi bagiku, Agya bisa tidur di gendonganku itu anugrah” katanya.
Kalau Agya memegang jarinya, dia berkata begini, “Ibu mau kamu ajak kemana Nduk, doakan ibu biar ibu cepet bisa melihat ya!”

“Kalau aku bisa melihat nanti, yang ingin pertama kulihat adalah anakku Sa”

Allah memang adil. Agya kecil adalah bayi yang tidak rewel. Dia seperti tahu ibunya sedang sakit. Setiap malam dia tidak menangis atau terjaga seperti bayi newborn lainnya. Tangisnya juga tidak bisa ‘cenger-cenger’ tangisnya pelan sekali. Apa bayi itu merasakan semua yang terjadi?

Allah memang adil. Mbak Yeti dijodohkan dengan Mas Agung. Teman seangkatannya saat SMA. Seusia. Saat SMA tidak saling kenal. Bertemu di acara reuni. Sebulan kemudian lamaran lalu menikah. Kisah cinta yang tidak rumit. Tanpa harus menunggu lama atau merasakan patah hati. Semuanya cepat dan lancar jaya.

Sejak Mbak Yeti kehilangan penglihatannya. Mas Agunglah yang merawat bayinya. Dibantu kakak dan adik Mbak Yeti. Dia yang memandikan Mbak Yeti, menyuapi, mengganti pakaian, apapun! Semua bersama Mas Agung.

Pernah check up ke RS Mata Undaan, ke RSKL, ke pengobatan herbal, pokok apapun yang orang sarankan didatangi. Dua hari lalu Mbak Yeti ke Jogja, untuk pertama kalinya berobat di Dokter Haryo Sarodja Bantul Yogyakarta. Dijadwalkan tiga minggu lagi check up kedua. Itu artinya saya dan Mbak Yeti akan sering-sering bertemu.

Agya cukup mengerti, meski ditinggal ayah dan ibunya “golek tombo” sampai dua hari dia tidak rewel. Sekali lagi Allah adil.

“Mas, kalau sampean nggak kuat ngopeni aku, sampean boleh nikah lagi” Mbak Yeti pernah bilang begitu ke Mas Agung. Tapi Mas Agung selalu menolak, “Sampean ki ngomong opo to Dek, aku duso lek sampek ninggal sampean”

Mbak Yeti pernah menceritakan percakapan itu pada saya.

Mbak Yeti dan Mas Agung telah mengajarkan saya arti cinta sebenarnya. Cinta yang mereka miliki muncul “jalaran saka kulino” tidak ada cinta menggebu-gebu di awal. Asal niatnya sama untuk membangun keluarga dan saling terjaga. Lillahi. Itu saja. Semuanya mengalir.

Mas Agung juga telah menerapkan benar makna “qobiltu nikahaha” Saya terima nikahnya bernakna menerima seluruhnya. Seluruh bahagia dan kesedihannya, terang dan gelap hidupnya. Long life acception without exception!

Jika keadaannya seperti Mbak Yeti begitu. Jika idealnya perempuan melayani suaminya. Lelaki harus menafkahi. Perempuan harusnya begini dan lelaki harus begitu. Semua itu tak lagi berlaku. Mas Agung resign dari pekerjaannya dan fokus merawat Mbak Yeti, mereka hidup dari gaji Mbak Yeti sebagai guru. Meski kehilangan penglihatannya Mbak Yeti masih mengajar sebisanya. Anak-anak malah menjadi hiburan baginya.

Kadang idealisme manusia hanya menjadi semacam teori jika sudah seperti ini. Allah lebih tahu mana kisah yang terbaik untuk kita jalani. Tak ada lagi egisme dan idealisme dalam cinta semacam mereka. Semuanya saling mengerti dan lillahita’ala.

Jika sampean ibu yang masih bisa pumping ASI lalu diupload ke medsos, bersyukurlah, ada Mbak Yeti yang sangat ingin menyusui tapi tidak bisa.

Jika sampean ibu yang bisa bermain dengan anak dan membuatnya tertawa-tawa, bersyukurlah, ada Mbak Yeti yang melihat anaknya saja tidak bisa. Hnaua membayangkan wajah anaknya lewat rabaan tangannya.

Jika sampean bisa update “Sehat terus ya Nak kesayangan Bunda”, “ Alhamdulillah, anakku bisa begini begitu” Bersyukurlah, ada Mbak Yeti yang tidak bisa sebangga itu memperlihatkan ke semua orang. Jangankan update sana-sini. Melihat senyum anaknya saja tidak bisa. Memikirkan diri sendiri saja sudah menghabiskan air mata.

Jika sampean single yang punya idealitas untuk pasangan hidup, ingatlah bahwa Allah selalu punya idealitas-Nya. Selalu punya jalan cerita untuk kita. Bisa jadi itu yang kita impikan, bisa jadi bukan, tapi sebagai manusia kita hanya harus melewatinya. Niatkan Lillahi menyempurnakan separuh agama. Insyaallah semua akan dicukupkan, dimampukan, dibahagiakan. Nasehat ini juga berlaku untuk saya. Karena saya juga belum berumah tangga. Terima kasih Mbak Yeti dan Mas Agung yang telah memberikan saya pelajaran hidup yang begitu banyak.

Zoya (Kiri) Agya (Kanan) 

Tulisan ini begitu panjang. Terima kasih bagi yang sudah membacanya. Saya membuat tulisan ini semata-mata untuk bahan renungan saya sendiri sebagai perempuan, kelak saya akan jadi istri dan ibu juga. Semoga bisa juga menjadi renun gan buat kita semua. Doakan ya semoga pengobatan di Hardjo Sarodja ini pengobatan yang jodo dengan Mbak Yeti. Dokter boleh bilang apa saja tentang mata Mbak Yeti, saya percaya tak ada kekuatan yang lebih kuat dibandingkan doa. Tolong doakan Mbak Yeti ya... Semoga Allah mewujudkan impiannya, bisa melihat buah hatinya. Agya.

Yogyakarta, 29 Oktober 2015
Rizza Nasir


Tidak ada komentar:

Posting Komentar