Selasa, 04 November 2014

Diary Appendectomi #5 : Maafkan Aku



Aku sampai di Kertosono jam 7 malam, dijemput keluargaku di perempatan Ngebrak. Dari sana aku naik dibawa keluargaku langsung ke rumah sakit Baptis. Di dalam mobil kulihat ibuku sudah siap dengan perlengkapan, seperti baju-bajuku, bantal, karpet dan air mineral. Sama persis seperti dulu waktu ayah masuk rumah sakit. Bedanya dengan ayah, ayah mendadak masuk rumah sakit, sedangkan aku sudah tahu kapan harus masuk, jadi ibu lebih siap.

Dalam perjalanan itu kuketik pesan ke beberapa orang. Kakak sepupuku, Mas Fahri, Navis, Ichmi  dan Dinda. Aku tahu aku tak punya banyak waktu. Cukup mereka saja sebagai wakil dari keluarga dan organisasiku.  Jujur saja dalam perjalanan itu, aku merasa takut. Bayangan akan ruang operasi berkelebat, lalu ranjang rumah sakit. Yang paling membuatku takut adalah, bagaimana kalau ternyata usus buntuku ini sudah pecah lalu dokter begitu sulit membersihkan nanah di sekitar ususku. Apakah aku benar-benar akan mati besok? Aku benar-benar takut! Padahal seharusnya, sebagai muslim aku tak perlu takut pada kematian. Tapi rupanya aku masih lemah iman, hingga aku merasakan hal itu.

Doakan aku ya, aku berpikir kalau aku tak harus operasi. Tapi ternyata usus buntuku ini sudah akut, jadi tidak ada jalan lain kecuali operasi. Maafkan semua khilafku selama ini, doakan aku semoga operasiku ini lancar dan aku masih bisa bertemu kalian lagi. Sampaikan juga pada yang lain, aku minta maaf dan tolong doakan kesehatanku. Maafkan aku. Salam


Sudah lama aku tidak menangis, tapi mengetik kata-kata itu dan mengirimkannya membuat dadaku sesak. Allah, apakah begini rasanya akan mati?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar