Selasa, 04 November 2014

Diary Appendectomy #2 : Boleh Saya Lihat Duburnya?



Perjalanan Malang-Kediri hari ini begitu lama. Rasanya sudah cukup lama aku tertidur, tapi belum sampai juga. Sesaat aku kembali merasa nyeri. Allah, penyakit macam apa ini? Aku hanya berharap cepat sampai Kediri, agar aku bisa menemui ahlinya, agar aku tak terus-terusan bertanya-tanya.

Sampai di rumah Mak, menjelang Dzuhur. Istirahat sejenak sembari bercerita pada budhe tentang yang kurasakan. Budhe bilang appendix itu usus buntu dan penderita usus buntu harus opname. Haruskah aku opname? Oh... Bagaimana dengan biayanya? Operasi? Berapa harganya?

Bersama Mbak Ita sepupuku, kudatangi rumah sakit Baptis. Mbak Ita mengisi data diriku dan aku masuk ke ruang IGD. Seorang perawat memintaku berbaring kemudian menutupkan selimut putih pada rokku.

“Apa yang kamu rasakan?”

“Perut saya nyeri”

“Dimana?”

“Disini” aku meraba perut bagian kanan bawah

“Sedang haid?”


“Iya, tapi biasanya tidak begini. Ini aneh sekali”

“Baik, tunggu sebentar ya”

Selang beberapa lama seorang dokter masuk, memintaku membuka perutku yang sakit itu, merabanya, mengetuk-ngetuk tiga kali.

“Sakit?” tanyanya setelah mengetuk perut

“Tidak!” Diketuknya bagian yang lain, kali ini agak ditekan

“Sakit?”

“Iya!” lalu ia tersenyum. Ia pun memintaku menekuk kaki kanan. Menanyakan hal yang sama dan jawabanku, “Tidak!”

“BAB lancar Mbak?”

“Lancar Dok”

“Mual?”


“Tidak!”

“Nyeri seperti menebal?”

“Iya!”

“Baiklah, saya ambil darahnya ya”  seorang perawat masuk dan mengambil darahku. Baru kali ini aku mengalami pengambilan darah hingga beberapa tetes seperti ini. Lalu perawat itu pergi, meninggalkan aku dan Mbak Ita dalam hening. Mau ngobrol apa? Lagipula sekarang bukan waktunya mengobrol! Aku sedang tidak ingin bicara. Kupandangi langit-langit IGD yang bersih itu. Lalu kordennya hijau muda. Dibalik gorden itu kudengar seorang perempuan hamil bersama suaminya sedang berbincang dengan dokter yang tadi memeriksaku. Sepertinya mereka sedang mengalami masalah pada kehamilan. Sepertinya kehamilan pertama, pantas saja mereka sedikit panik. Setelah dokter mengatakan tak ada apa-apa dengan kandungannya. Pasangan itu tertawa-tawa. Oh senangnya mereka.

Kali ini aku tak lagi berbaring, sudah duduk dipinggiran ranjang dan memainkan kaki. Mencoba santai sebisa mungkin. Sesekali kubaca aplikasi resonansi Asma Nadia yang baru kudownload semalam. Kira-kira habis tiga tulisan kubaca sampai dokter tadi datang kembali, membawa kertas berisi laporan hasil lab atas darahku.

“Mbak, ini hasil darahnya bagus. Leukositnya normal, trombositnya normal. Karena hasil cek darahnya normal kita harus pakai cara lain untuk mendiagnosa penyakitmu. Boleh saya lihat duburnya?”

“Jika memang itu caranya saya tidak masalah Dok. Silahkan!”
Dokter ini seorang pria, aku tidak tahu apa yang akan dia lihat atau apa yang akan dia lakukan pada duburku. Aku percaya ini adalah langkah medis yang harus ditempuh. Di artikel yang kubaca sebelumnya memang menggambarkan hal ini. Jika pasien tidak menunjukkan gejala pada hasil lab darah. Maka pemeriksaan dubur bisa dilakukan. Untuk memperkuat dugaan penyakit appendicitis. Aku hanya berbekal satu keberanian, kalau dokter ini sampai macam-macam akan kutendang kepalanya!

Ia mulai memakai sarung tangan, mengolesi tangan itu dengan gel. Sebelumya perawat telah memintaku melepas celana dalamku. Tentunya saat dokter ini keluar mengambil sarung tangan itu.

“Permisi ya Mbak” ia memohon izin

“Iya” jawabku pasrah.

Kurasakan sesuatu masuk di duburku. Itu adalah jemari dokter itu. Subhanallah. Ternyata jemari itu bisa masuk dalam lubang dubur yang kecil. Elastis sekali tubuh ini ya! Aku merasakan ia menyentuh ujung di dalam sana, masih dalam dubur, mungkin semacam lubang yang aku tak tahu apa namanya.

“Ini sakit?” tanyanya

“Tidak!” 

Lalu ia menggeser sedikit, ternyata ada lubang lagi! Ya, kurasakan ada lubang lagi. Dokter itu bertanya lagi, pertanyaan yang sama, dan kali ini kujawab “ Iya sakit Dok!” saat jemarinya menyentuh.  Setelah itu ia mengeluarkan tangannya dari duburku. Aku merasa seperti setelah BAB, mungkin gerak peristaltik dan elastisitas dubur yang membuatku merasakan seperti itu. Setelahnya dokter keluar tanpa berkata apa-apa.

Perawat mengajakku untuk ke kamar mandi. Cebok! Karena tangannya dilapisi gel aku seperti merasa lengket-lengket di duburku. Risih sekali! Aih. Sepanjang perjalanan ke kamar mandi hingga duduk di sisi ranjang kembali, aku terus berpikir sesuatu. Lebih tepatnya takjub. Rasa takutku saat dokter itu hendak melihat duburku hilang seketika. Pun rasa sakit yang kurasakan saat ujung lubang tersentuh. Aku sudah lupa. Yang kuingat dan membuatku penasaran adalah : Allah, Aku tak pandai Biologi apalagi Fisiologi, jadi aku masih terus bertanya-tanya hari itu, bahkan sampai menyelesaikan tulisan ini. Apakah ada dua lubang dalam dubur manusia? Atau aku yang salah menduga?

Diary Appendectomy #3 USG Yang Menyakitkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar