Selasa, 28 Oktober 2014

TAKBIRAN SENDIRIAN




Takbiran sendirian, tanpa ada ayah, ibu dan adik-adik. Menyesakkan memang, tapi inilah kenyataan. Mungkin juga ini satu alasan kenapa Indonesia begitu akrab dengan tradisi mudik menjelang hari raya Idain. Karena mereka tak ingin takbiran sendirian dan tak ingin diselimuti kerinduan menyesakkan.

Bagi orang lain, mungkin Idul Adha tak sesakral Idul Fitri, yang harus bersama keluarga, bela-belain pulang meski harus berdesakan, meski harga tiket mahal. Tapi bagiku Id tetap Id. Takbiran tetap tetap takbiran. Dua hari raya ini begitu istimewa, tapi kali ini terasa sangat berbeda.

Biasanya, malam Id, kami sekeluarga sudah sibuk dengan pekerjaan kami. Faisal dan Farid, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan kaca, atau menata karpet untuk tetamu, sedangkan aku dan Ibu, menyapu rumah, membersihkan meja-meja, menggantinya dengan taplak cantik lalu menata hidangan di atasnya. Sehari atau dua hari sebelumnya, biasanya kami sibuk membuat kue kering rupa-rupa. Jika semua itu sudah selesai, baju-baju untuk shalat Id menunggu disentuh. Koko atau hem Faisal dan Farid, Koko Ayah, sarung mereka, baju ibu dan bajuku harus disetrika,  kalau perlu disemprot dengan pewangi. Semua itu sudah menjadi kebiasaan tiap tahun. 

Malam ini, tak ada semua itu. 
Tak ada baju ayah dan baju ibu, atau Faisal dan Farid yang sibuk memilih baju mana yang akan dipakai, meski tak selalu baru tapi berpakaian rapi dan nyaman di Idain itu perlu. Hari istimewa, lebih istimewa dari silaturahim biasa atau berpergian bersama teman-temannya.

Ayah dan ibu, tak perlu aku menyetrika baju-baju mereka, karena malam ini mereka hanya harus memakai pakaian ihram untuk wukuf. Bersama ribuan orang disana, bersama mereka jamaah haji Indonesia yang mungkin sudah menunggu belasan tahun untuk menunaikan rukun islam kelima, beruntung, ketika daftar haji pada 2009, ayah dan ibu hanya menunggu 5 tahun saja. Tahun ini mereka disana, di tempat paling suci di muka bumi ini. 

Ayah, pripun kabare? 

Ibu, sehat?

Pasti di padang Arafah semalaman begini dingin sekali, apalagi ayah yang hanya mengenakan kain ihram. Yah, adem gak? Ayah sehat? Sudah dapat jadwal cuci darah minggu ini?Ayah, semoga setelah dari Mekkah, ayah sehat kembali. Semua sakit hilang, semua fungsi organ kembali normal dan ayah bisa kembali berjalan.

Ayah, Mbak Rizza pengen dibonceng ayah naik motor lagi, pengen di ajak ke kota-kota yang pernah ayah kunjungi seperti dulu. Pengen dijemput ayah di Jogja ini, seperti dulu ayah menjemputku di asrama tiap Sabtu Minggu dan mengantar kembali setiap Senin pagi. Aku masih ingat, dulu aku lelet, hingga aku sering berangkat kesiangan, padahal jarak rumah dan sekolah harus di tempuh lebih dari setengah jam, belum lagi hari Senin pagi yang begitu padat, akibatnya njenegan harus ngebut, ayah marah kalau aku begitu, tapi aku masih mengulangnya. Lagi, dan lagi. Ayah, kapan ayah mengajakku ke toko buku lagi?

Ayah, banyak sekali kenangan masa remajaku bersamamu, saat sehatmu dulu. Mungkin itu tidak dirasakan Faisal atau Farid. Aku beruntung karena lahir lebih dulu, hingga aku bisa menikmati masa itu lebih lama. Tapi Yah, Faisal sangat mirip denganmu. Keras, tegas tapi tanggung jawabnya besar sekali. Jadi, kalau Faisal atau Farid agak susah diatur, pasti dulu Ayah juga begitu kan? :P Seperti aku dan ibu, yang kata banyak orang banyak sekali kemiripan dari sifatnya. Kalau wajah, bisa ditebak,  Rizza memang anaknya Pak Nasir bukan anak ibu, haha.

Ayah, aku memang merindukan masa kecilku bersama ayahku yang gagah, tapi aku lebih merindukan kehadiranmu dan kepulanganmu di rumah. Aku kangen ayah yang ngomel saat aku senang bermain air, aku kangen ayah yang begitu khawatir padaku,  aku kangen rumah yang rame saat pagi. Faisal dan Farid memang susah sekali dibangunkan, jadi harap lebih bersabar ayahku sayang. Aku sudah bilang kan, Aku sayang Ayah!


Ibu, hai!, bagaimana rasanya berhaji? Bagaimana rasanya naik pesawat? Aku masih ingat ibu sering bertanya soal naik pesawat, apa saja yang boleh di bawa ke kabin, bagaimana pemeriksaan barang dan bagaimana saat naik. Nah, sekarang sudah tahu kan?
Masih kuingat juga kita berdua yang sibuk menata baju-baju di koper besar itu. Tas jinjing dan tas kalung. Lalu, kita ‘engkel-engkelan’ ini dibawa atau tidak di bawa. Ini butuh atau hanya penuh-penuhin tas saja. Ah ibu, kita memang tak pernah akur ya!, pasti ada saja yang membuat kita berbeda pandangan. Tapi memang kata banyak orang, seorang ibu dan anak perempuannya banyak sekali ‘perdebatan’

Ibu, aku kangen curhat denganmu. Aku kangen cerita banyak hal. Banyak hal yang terjadi disini, di kotamu Bu. Jogja. Kota kita. Ibu sering bercerita tentang Jogja, itulah yang membuatku bermimpi juga tinggal di kota ini. Menamatkan sarjana atau bekerja. Tapi sayangnya, dulu ibu dan ayah belum merestui kan? Ya, aku manut saja. Tapi, thank you so much, setelah aku wisuda. Kalian benar-benar mengangapku sebagai gadis dewasa. Mandiri seutuhnya. Akhirnya, aku bisa mewujudkan mimpiku yang kesekian. Tinggal di Jogja. Kota kita.

Bu, apakah sudah berdoa untukku? Untuk adik-adik? Untuk keluarga besar kita dan desa kita? Foto-foto kami bertiga, sudahkah terbawa angin Saudi Arabia? Bu, seperti perbincangan kita di seluler beberapa hari lalu. Aku ingin menikah. Katakan pula pada ayah tentang hal itu. Tapi sejujurnya, ayah sudah tahu. Malam hari beberapa jam sebelum kalian ke pondokan, aku sudah mengatakan pada ayah. “Ayah, aku ingin menikah”
Doakan aku agar aku segera dipertemukan dengan Masku, aku pun tak tahu, dengan Mas yang itu, yang itu atau yang itu. Atau dengan Mas yang belum pernah kukenal. Siapapun dia, aku percaya Allah tak akan membiarkan anak perempuanmu ini hidup sendirian karena janjinya setiap insan hidup berpasangan.

Bu, tak perlu khawatir dengan kondisiku, aku percaya ada satu lelaki di luar sana, yang jauh tapi merasa dekat denganku, yang tak bertemu tetapi merasakan kehadiranku dan tak terkata tapi sebenarnya jatuh cinta. Bu, aku cantik seperti kata ibu, meski tak terlalu cantik. Seperti katamu Bu, “Sing penting sholihah Mbak” Bukankah namaku Sholihah? Itulah doa kalian berdua untukku. Doa yang harus kuwujudkan, bukan?

Aku sudah berjanji, aku tak akan menyerah, aku tak akan merasa kalah. Putrimu ini sudah kuat Bu, kebal, tahan banting, bernyali besar dan mandiri. Itu kan yang selalu ibu impikan? Sudah kuwujudkan Bu. Apapun dan bagaimana pun keadaanku, aku akan tetap menjadi Rizza, anak perempuanmu. Aku tak pernah malu, tak pernah takut. Itu semua untukmu, untuk ayah dan untuk adik-adik. Karena hanya dengan itu aku bisa membuat kalian tersenyum.

Bu, tak perlu khawatir dengan pendampingku. Meski sudah banyak teman-temanku yang menikah, kelak aku akan menikah juga Bu. Menjadi ibu yang tangguh sepertimu. Ibu dari empat anak yang lucu-lucu. Dulu ibu bermimpi punya anak empat kan? Tapi Allah hanya merestui tiga, Aku, Faisal dan Farid. Operasi caesar memang tak boleh melebihi tiga kelahiran. Untuk itu aku yang akan mewujudkan Bu, ayah dan ibu akan memiliki empat cucu dariku. Semoga nanti Masku juga setuju. Jangan khawatir Bu, aku tak takut kok punya anak banyak, haha

Untuk itu berdoalah untukku di tempat paling mustajabah itu, agar aku segera bertemu dan disandingkan dengan menantu lelakimu itu. Dimanapun dia sekarang, anak siapa, dari kota mana. Kau dan aku tak pernah mempermasalahkannya. Tapi Bu, aku tak ingin pergi jauh darimu, aku ingin berjodoh dengan orang yang jika beda kota maka bisa kami tempuh 2-3 jam saja. Agar aku bisa sering menengokmu dan ayah. Seminggu sekali, kalau anak-anak libur mengaji, seperti halnya masa kecil kami. Membawa anak-anak ke rumahmu untuk menggenapi kerinduanmu. Kudengar, kalau sudah punya cucu, seorang ibu akan sangat merindukan cucunya kan? Nah, aku tak ingin kalian mendem kangen terlalu lama.

Ibu, seperti yang kau ucapkan pula di seluler tempo hari : “Sing pinter, cepat dapat kerja dan segeralah menabung untuk berhaji”Kuamini doa itu. Bu, hari Senin esok aku dapat panggilan tes wawancara dari sebuah perusahaan. Jika diterima maka aku akan bekerja sebagai penulis artikel tetap disana. Doakan aku ya Bu, semoga semua dimudahkan dan aku bisa segera bekerja.

Entah ini kata-katamu yang keberapa yang terwujud. Dulu kau pernah bilang, “Jadilah penulis saja, kerja dari rumah. Kamu masih bisa merawat anakmu dan buat kue di rumah. Atau jika tidak begitu, sekolahlah S2 dan jadilah dosen, dosen perempuan itu langka dan waktunya lebih fleksibel, tapi tetaplah menulis”Hingga kini, aku dan dunia kepenulisan seperti magnet Bu, lengket, kelet! Aku pernah mencoba dunia yang lain, tapi lagi-lagi aku kembali ke nulis. Kembali ke Microsoft Word! 

Sebenarnya, aku juga dapat kesempatan tes lanjutan untuk kepenulisam artikel berbahasa inggris Bu, tapi urung kuikuti karena berbenturan dengan jadwal yang lain. Oya, aku juga sudah mengirim satu artikel ilmiah untuk jurnal. Tuh kan Bu, terwujud lagi! Masih ingat kau pernah bilang, “Temanku ada yang jadi peneliti di LIPI, kamu juga bisa lho jadi peneliti, prospektif untuk umat dan bisa mengembangkan keilmuan” Seperti halnya kepenulisan aku juga sangat mencintai penelitian. Bu, aku bersyukur lahir dari rahimmu. Karena meski kau Ibu rumah tangga biasa, kau sangat peduli pendidikan dan keilmuam. Kau membiarkan aku berkelana kemana-mana. Memenuhi hasrat liarku dan ingin tahuku. Hal yang tak kau dapat saat gadis dulu.

Bu, aku pernah bilang, aku ingin seperti ibu yang bersuami ayahku. Ayah adalah lelaki nrimo, setia dan punya semangat juang tinggi. Cintanya pada keluarga melebihi kecintaan pada dirinya sendiri. Hanya, aku ingin suami yang tidak merokok Bu! Karena berawal dari rokok pula, ayah seperti sekarang. Aku tidak mau Masku seperti itu nantinya.

Ibu begitu peduli soal detail apa saja. Kurang ini, kurang itu, sementara ayah yang lebih suka sekenanya. Ibu yang begitu serius dan susah guyon, sementara ayah yang sedikit-sedikit guyon. Bahkan dalam keadaan sakit pun masih bisa melucu. Ibu yang suka panik dan takut pada hal-hal sepele, sementara ayah yang tenang dan pemberani. Ibu yang pandai mengatur uang sementara ayah yang boros, ibu yang pelupa sementara ayah yang selalu ingat pada hal kecil. Ibu yang suka menaruh barang sekenanya, sementara ayah yang lebih senang rumah tertata. Ibu yang cerdas sementara ayah yang tak terlalu pintar tapi berinsting kuat. Apalagi? Banyak!

Kalian berdua benar-benar berbeda, mungkin ini juga yang dinamakan jodoh, tak harus sama dalam segala hal, bahkan dalam banyak perbedaan. Kelak aku juga akan menemukannya pada Masku, kami yang berbeda tapi nyatanya bisa bekerja bersama, nyatanya bisa saling mencinta, nyatanya bisa berjuang bersama, dari yang tak punya apa-apa sampai berhasil punya banyak hal. Punya anak, punya rumah, punya usaha bersama. Punya apalagi? Punya cinta, ahaha
Apa sih cinta itu? Itu yang pernah kutanyakan bukan? Tapi aku sekarang sudah tahu Bu. Aku sangat mencintai kalian ayah dan ibuku. Kalian adalah pangkal dari semua mimpi-mimpiku. Terima kasih telah membesarkanku sampai sebesar ini, terima kasih telah sabar dan ikhlas menerima kehadiranku. Allah menyediakan sebuah tempat istimewa di surga untuk perjuangan kalian atas diriku.

Ayah ibu, disini, setiap hari aku bisa melihat pesawat dari dekat, pesawat itu selalu melintas. Lebih dari sepuluh kali sehari. Terbang rendah, aku selalu mengamati dari jendela kamarku, berharap kelak bisa naik pesawat kembali. Ke kota paling suci di bumi ini.

Malam ini, tak biran sendirian. Faisal dan Farid di Kediri mungkin juga sedang kesepian. Tapi, kita harus belajar, kelak kita pasti berpisah. Hidup mandiri, dengan keluarga kami sendiri. Mungkin aku akan lebih sering sholat Id di kota suamiku dan baru ke rumah ayah dan ibu setelahnya untuk bersilaturahim. Apa bedanya dengan malam ini? Allah sedang memberimu kesempatan untuk training Rizza, latihan tidak takbiran di rumahmu. Karena kelak kau akan banyak menghabiskan malam takbiran di kota suamimu. Bersyukurlah, Allah memberi satu kesempatan ini. Takbiran pertama di perantauan. Sendirian
Yogyakarta, Malam Idul Adha
3 Oktober 2014
Rizza Nasir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar