Jumat, 17 Januari 2014

ROMANSA MA ISA



Ma Isa adalah nama sebuah kedai lalapan yang berada tepat di depan kontrakan saya. Memanfaatkan teras rumah sebelah yang lapang, disitulah ia mencari rezeki dengan berjualan lalapan. Awalnya saya mengira wanita yang berjualan itu berusia lima tahun di atas saya. Karena dia sedang hamil tua. Ternyata dugaan saya salah, wanita yang berjualan lalapan itu seusia dengan saya.

Adanya Ma Isa berjualan di depan kontrakan tentu sangat membantu perut kami, jika tidak ada sayur atau ikan yang di masak dan sedang malas keluar cari makan karena hujan, Ma Isa jadi pilihan. Kami satu kontrakan sembilan orang, jika masing-masing dari kami pernah beli makan di Ma Isa, berarti kami masuk dalam kategori pelanggan setia, hehe.

Saya sangat trenyuh melihat Ma Isa, yang dengan perut buncitnya terus bekerja. Sembari menunggu dia menggoreng ayam pesanan saya, saya mulai iseng bertanya ini itu padanya. Entah, jika ada hal yang luar biasa seperti ini, saya selalu ingin tahu lebih banyak. Pernah satu sore saat saya beli, Ma Isa mengenakan jaket, ternyata itu adalah almamater. Ma Isa ternyata seorang mahasiswa. Bodohnya sekian bulan bertetangga, saya baru tahu kalau dia masih kuliah.

“Lho, Mbak masih kuliah ternyata?, dimana?”

“Di Kanjuruhan Mbak, semester 7, ini sedang menyelesaikan skripsi” ungkapnya
“Wah sama dong, saya juga. Jurusan apa?” saya memburu
“PGSD Mbak”
Glek, sama lagi. “Saya PGMI lho Mbak di UIN” kataku bersemangat
“Suami saya ini anak UIN Mbak, Fakultas Syariah dia”
Haa, jadi lelaki yang selama ini bantuin dia masak itu anak UIN. Ya Allah, betapa dunia ini sempit sekali.

Saya semakin ingin tahu dengan keluarga ini. Seiring waktu saya dan mereka berdua semakin akrab, kalau saya keluar dari kontrakan sore-sore dan melihat mereka buka lapak, saya selalu menyapa dan mereka selalu mengucap “Hati-hati Mbak di jalan”

Mereka berdua masing-masing berusia  22 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran sebuah keluarga saat ini. Mereka menikah, lalu bekerja memenuhi kebutuhan hidup dengan masih terus kuliah. Si istri sekarang semester 7 dan sedang menggarap PTK untuk tugas akhir dan suaminya tentu saja masih harus menyelesaikan beberapa mata kuliah lagi. Karena ada yang harus diulang tahun ini.

“Kalian dulu ketemunya dimana?” aku mulai wawancaraku
“Di Neutron Mbak, dulu kami sama-sama les disana pas SMA”
“Wah, cinlok nih ceritanya?”Aku menggoda
“Hehe iya Mbak” kata Ma Isa malu-malu
“Nggak pernah ada masalah kuliahnya pas hamil gini?”
“Alhamdulillah nggak Mbak, sehat terus. Sekarang sudah masuk bulan ke delapan” katanya berbinar.
“Ini anak kedua kami Mbak”, “doakan perempuan ya” seloroh suaminya.

Ya Allah, ternyata Ma Isa bukan mengandung anak pertama, tapi anak kedua. Mereka menikah tahun 2010, saat keduanya masih duduk di semester 2. Semester dua di UIN, berarti si suami menikah saat ia masih mengikuti program PKPBA. Hebatnya, meski Ma Isa, sudah hamil dua kali dan dua-duanya dijalani di masa kuliah, ia tak pernah kehilangan satu semester pun kuliahnya, ia tak pernah cuti! Benar-benar wanita dan janin yang kuat.

“Kalian kok berani sih, masih muda begitu menikah, nggak takut?” aku semakin penasaran. Tahun 2010 saat mereka menikah, berarti mereka masih berusia 18 tahun.

“Takut apa, nggak Mbak, yang penting dijanjeni sama ibu, kalau sudah mau menikah berarti berani cari uang sendiri. Lha ini saya cari uang tho, buat dia tuh” kata si suami sambil melirik Ma Isa. Ma Isa, tersenyum makin lebar dan mencubit perut suaminya.

Melihat mereka berdua, saya malu sebagai sama-sama pemuda. Keberanian mereka untuk menghalalkan sebuah hubungan memang sangat kuat, dibarengi tekad untu terus berbuat, mandiri, tanpa merepotkan orang tua. Karena anak sulungnya sudah dalam asuhan kakek neneknya di Bondowoso sana. Sebulan sekali mereka naik motor Malang-Bondowoso untuk menengok jagoan kecilnya dan memberi uang orang tuanya.

“Nanti jadi guru sama kayak istri saya ya Mbak, bisa ngajar bareng barang kali. Kalau saya nggak bisa lulus bareng dia Mbak, di semester awal banyak yang ngulang, karena saya males. Istri saya tuh Mbak, rajin banget dia kuliah. Kalau saya pengennya kerja terus” kata si suami

Saya mengerti, sebagai lelaki yang memiliki tanggungan seorang istri yang harus dinafkahi, pasti suami Ma Isa, begitu semangat bekerja pada awal pernikahannya sehingga membuat kuliahnya keteteran. Memang tak semua mereka yang menikah muda begini, ada banyak teman lelaki saya yang menikah saat kuliah tapi tetap bisa fokus pada kuliahnya dan keluarganya.

“Ya, nggak papa to, dijalani aja, nanti pasti selesai kuliahnya. Setidaknya kamu beda sama teman-temanmu. Kalau mereka masih sering main-main dan godain cewek, kamu kan sudah ayem to” kataku menghiburnya.
“Iya Mbak, kalau pengalaman kerja, insyaallah saya lebih pengalaman dari teman-teman, kalau mau menggoda cewek ya dia yang saya goda, dia kan gandolane ati haha” kami bertiga tergelak mendengar ucapannya.
“Eh Mbak, ngobrol dulu sama istri saya ya, saya sholat dulu” ia pun beranjak meninggalkan aku yang terpaku. Ya Allah, bahkan panggilan adzan pun dia sambut dengan segera.
“Nanti gantian Mbak, kalau dia selesai baru saya yang sholat” ucap Ma Isa, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk sambil menyusut bulir air mataku.

Ma Isa dan suaminya, di saat pemuda lain bermain-main dengan dunia, bermain-main dengan cinta, mereka berani mengambil keputusan untuk hidup bersama. Di saat yang lain, menunda-nunda pernikahan tanpa alasan, padahal kemampuan materi dan keilmuan sudah matang, mereka  berani menghalalkan tanpa banyak alasan.

Cinta yang mereka miliki adalah yang paling agung. Cinta yang lahir karena cinta, tanpa alasan apapun. Jika ingin ganteng atau cantik. Ma Isa dan suaminya biasa namun menyejukkan karena selalu tersenyum. Jika ingin menikah karena kaya. Ma Isa dan suaminya tak punya apa-apa. Mereka masih memulai meniti rezeki bersama-sama. Jika ingin yang pinter dan gelar merentet di belakang namanya. Ma Isa dan suaminya masih kuliah, masih mahasiswa. Dalam semua hal itu mereka masih belajar.

Cinta yang mereka miliki sungguh cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta untuk saling memberi, mengingatkan, dan menguatkan. Cinta yang tak hanya nafsu sesaat, tapi cinta untuk menikahi dan bertanggung jawab pada Illahi. Sungguh, mereka tak punya apa-apa, yang sering anak muda sebutkan sebagai bagian dari kriteria. Mereka hanya punya keberanian dan keteguhan. Bukankah jika engkau miskin, Allah berjanji akan memberikan kecukupan padamu?

Bulan depan, mungkin Ma Isa akan melahirkan. Dia akan cuti berjualan karena harus mengurus bayi mungilnya dan menghabiskan masa nifasnya. Semoga Allah, menguatkan dia untuk melahirkan bayinya. Saya punya niatan untuk berkunjung ke rumahnya di Bukit Tidar sana jika saat itu tiba.

“Ini anak kedua kami Mbak”, “doakan perempuan ya” kata-kata itu terngiang. Amin. Semoga Allah menagabulkan doa kalian. Keluarga muda dengan sepasang anak-anak yang lucu serta ayah dan ibu yang teguh seperti kalian. Barakallahulakuma.

RIZZA NASIR




Tidak ada komentar:

Posting Komentar