Senin, 20 Mei 2013

KETIKA AKU MENJADI IBU



Siapa yang tak senang menjadi ibu? Semua wanita di dunia ini pasti menginginkan itu. Ketika aku menjadi ibu usiaku baru 21 tahun. Duduk di semester 7 sebuah universitas di kota ini. Tak kupungkiri menjadi ibu plus mahasiswa adalah satu tantangan tersendiri bagiku. Saat aku hamil tua aku masih
harus mengikuti beberapa mata kuliah setiap harinya selama seminggu. Melelahkan.

Saat-saat menjelang kelahiran anakku. Aku merasakan sakit yang sangat. Sakit semua badanku, dari pinggang, perut, kepala, kaki. Sakit. Ingin rasanya aku berteriak agar sakitku mereda. Keluar bersama suraku. Tapi ibuku melarangku. Lebih baik digunakan dzikir saja Nduk,kata beliau. Semalaman aku merasakan sakitnya melahirkan. Allah, beginikah rasanya?



Suamiku. Tak bisa berbuat banyak selain menenangkanku, menggosok-gosok punggungku dan mengusap peluhku. Percuma. Sama sekali tak mengurangi sakitku. Semakin lama semakin sakit. Lalu pagi itu dokter datang ke kamarku, menutupkan kain di perutku. Diperintahkannya aku mengangkan gmembuka dua kakiku. Bismillah... kuikuti anjuran dokter untuk mengejan. Satu, dua, tiga kali. Dan lahirlah anakku.  Jagoan kecilku. Terima kasih Allah...

Menikah saat kuliah adalah pilihanku. Tak ada takut sama sekali dalam diriku ketika lelaki yang kini menjadi suamiku melamarku. Usianya sembilan tahun lebih tua dariku. Sebuah usia yang matang untuk lelaki.  Aku mengenalnya di organisasi.  Aku tak terlalu mengenalnya sebagai partner, aku hanya tahu dia baik. Itu saja. Ketika  dia melamarku, ayah dan ibuku menanyakan padaku. Apakah aku mau menerima lamaran lelaki itu. Menurut ayah bagaimana? Kalau ayah dan ibu setuju, insyaallah saya setuju. Sejauh saya tahu tentang dia. Dia baik.

Sebulan kemudian kami  menikah, kini  jagoanku sudah mulai berjalan. Belajar mengucap banyak kata dan penasaran terhadap hal-hal baru. Aku bahagia dengan hidupku kini. Memiliki seorang suami yang menyayangiku dan anak yang lucu. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita kecuali memiliki seorang suami sholeh yang menyayanginya dan melahirkan seorang putra. Menjadi seorang ibu. Fabiayyi alaa i Rabbikuma Tukadziban??

Jangan takut menikah saat kuliah. Jangan takut disibukkan oleh mengurus rumah tangga saat kuliah. Saya buktinya. Saat anak saya lahir saya sedang dalam proses menggarap proposal skripsi. Mengerjakan skripsi saat anak saya sudah terlelap, atau bersamaan dengan menyusui dia dipangkuan. Saya terus mencicilnya tiap malam. Alhamdulillah saya  lulus tepat 4 tahun. Tak lebih. Tepat waktu. Saya memiliki suami, seorang bayi mungil, mengerjakan  skripsi. Banyak tanggung jawab yang harus saya emban dalam waktu bersamaan. Saya bisa!

 Saat wisuda saya ditemani oleh suami dan bayi saya. Keluarga saya yang baru. Inilah pilihan hidup saya. Menikah muda. Menurut saya lebih terjaga dan menjaga. Kalau banyak teman-teman saya yang lain beralasan masih kuliah, belum siap, masih terlalu muda, mengejar karier.  Memang semua orang punya pilihan hidup berbeda.  Saya hanya berpikir tentang masa depan. Masa depan yang sesungguhnya bagi semua orang di dunia ini. Hidup bahagia bersama belahan jiwa dan buah hati te

Kisah  ini dituturkan oleh seorang  teman saya. Dari kisahnya saya mengerti dan paham tentang banyak hal yang harus  diemban seorang wanita. Tentang bagaimana pinangan, menikah, dan memiliki seorang bayi. Dalam menghadapi kedewasaan seorang wanita dihadapkan pada tantangan hidup selanjutnya, yakni menjadi ibu.

Apa sajakah yang  pertimbangan seorang wanita  menerima lamaran seorang lelaki?  Bagaimana ia menjaga sholatnya, bagaimana perangainya, bagaimana latar pekerjaannya, Bagaimana pekerjaannya. Ya, bagaimana pekerjaannya bukan apa pekerjaannya. Pertanyaan ini tak lantas menjadikan wanita itu materialistik. Sejatinya bukan kemapanan yang dicari tapi ketentraman hati, begitu ia menuturkan. Bila mencari kemapanan, misalnya. Sampai usia berapa kita baru menikah? 30? 50?

Pekerjaan adalah keuletan bukan kemapanan. Rezeki itu akan datang seiring waktu. Jadi jangan takut menikah untuk para lelaki meskipun belum mapan, yang penting sudah punya pekerjaan. Bukan pekerjaan tetap, tapi tetap bekerja. Begitu juga dengan wanita sangat sedikit wanita yang memandang lelaki dari kemapanan hartanya. Mapan yang seharusnya adalah mapan ilmunya. Bukan pula ketampanannya. Lelaki yang sekarang tampan nanti kalau menua, jelek juga. Lelaki yang kaya, jika tak kuat imannya hancur juga. Jadi satu-satunya yang tak akan pernah hilang ya kesholihan dan keilmuannya.



Ketika aku menjadi ibu, aku menjadi wanita seutuhnya. Meski usiaku masih muda aku telah memiliki semuanya. Tak usah lah muluk-muluk pada kehidupan ini. Tak perlulah menjadi wanita yang sok. Cukup menjadi gadis sholihah, cukup menjaga diri dengan baik, cukup menjaga hati hanya untuk suami. Kalau kamu gadis yang baik dan sholihah. Lelaki yang baik dan sholih telah dipersiapkan untukmu. Bersiaplah ! menjadi ibu yang sholihah
Jangan lupa undang aku ya kalau menikah!! ^_^
Rizza Nasir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar