Jumat, 10 Mei 2013

KETIKA AKU MENJADI AYAH



Kata orang cintaku adalah cinta lokasi.  Tresna jalaran saka kulina. Aku terbiasa bertemu dengannya, aku terbiasa bekerja dengannya dalam satu organisasi. Aku mulai mencintainya. Dia yang keibuan, dia yang sangat suka dengan anak-anak, dia yang sabar, dia yang memahamiku, menghormatiku. Meski kami seusia dia tak pernah merendahkanku. Dia menghormatiku sebagai lelaki. Diia gadis yang kucintai setelah ibuku. Gadis yang mengerti dan memahamiku. Aku bukanlah lelaki tampan dengan prestasi segudang tapi dia mau menerimaku dan cintaku.

Usiaku baru 22 tahun saat aku melamarnya, baru saja selesai menggarap skripsi dan menunggu ujian. Sementara dia lulus lebih dulu. Bukan karena aku malas mengerjakan skripsi tapi dosen pembimbingku yang bolak-balik keluar negeri  hingga lulusku pun mundur. Mungkin aku adalah lelaki paling nekat di dunia. Melamar anak orang saat aku belum punya penghasilan. Aku hanya punya niat untuk menikahinya, menjadikan ia pendampingku, ibu dari anak-anakku. Karena hanya dia yang mengerti dan menerima kealpaanku. Aku siap bekerja keras demi dia. Aku yakin, menikah membuka pintu rezeki.



Aku lelaki dan aku benci bayi. Aku tak suka anak-anak. Aku risih saat mendengar keponakan-keponakanku menangis, merengek, teriak-teriak. Apalagi saat mereka pipis di bajuku. Jijik. Tapi pagi itu, duniaku berbalik. Tanpa sadar aku mulai belajar mencintai anak-anak. Membeli buku-buku tentang anak, membacanya. Aku belajar. Belajar menjadi ayah. Pagi itu masih lekat diingatanku, saat istriku mengatakan  “ Mas, aku hamil” . Entahlah rasanya campur aduk. Bahagia, terkejut, bingung. Dia hamil? Aku yang menghamili dia? Aku?

Semakin hari semangat kerjaku semakin berlipat. Pergi pagi hari dengan senyuman. Aku niatkan mencari rezeki untuk istriku dan calon bayiku. Setiap paginya istriku melepasku dengan senyum manisnya. Tak lupa kukecup kening dan perutnya. Sore harinya, saat letih menguasaiku. Dia masih saja menyambutku dengan senyuman. Tak peduli bau asem dari tubuhku yang menguar. Dia tetap menghadiahiku sebuah pelukan. Pelukan yang berbicara Mas, kok lama sekali sih pulangnya . Mas, capek ya. Terima kasih telah bekerja untukku. Aku dan anakku mencintaimu. Semakin hari aku semakin mencintainya. Mencintainya yang mencintaiku lebih dari siapapun.

Beberapa bulan kemudian, istriku mengerang kesakitan. Rupanya anakku akan lahir. Satu jam aku berada di ruang persalinan. Menggenggam tangan istriku yang terus meronta. Erat dan semakin erat. Sakit itu, bisahkah digantikan kepadaku. Aku tak tega melihatnya menderita seperti ini.  Tak ada yang bisa kulakukan kecuali mengusap peluhnya dan terus mendoakannya. Tak terasa air mataku jatuh.  Inikah sakitnya melahirkan? Wanita yang kucintai kesakitan melahirkan anakku. Anak kami. Tiba-tiba bayangan ibuku berkelebat. Ibuku, wanita yang melahirkanku dan kini wanitaku berjuang bertaruh nyawa melahirkan anakku.

Kugendong bayi mungil itu. Matanya yang berusaha berkedip. Dan mataku yang terus menangis. Kubisikkan adzan dan iqamah di kedua telinganya. Aku terisak.. Kudekatkan ia pada ibunya. Istriku yang masih lemah tersenyum. Senyum kelegaan. Mas anak kita tampan seperti dirimu. Kukecup keningnya. Berikanlah surga untuk perjuangannya ini  Rabb. Bayi mungil ini anakku. Aku telah menjadi seorang ayah.  Nak, aku ayahmu.

Ternyata anak-anak bukanlah makhluk menyebalkan seperti perkiraanku sebelumya. Anak-anak adalah makhluk yang menentramkan. Aku selalu merindukan anakku saat aku jauh dari rumah. Pagi hari saat aku pergi bekerja,  aku selalu berharap sore segera datang dan membawaku pulang kembali. Bertemu dengannya. Letihku luruh saat kulihat anakku dan istriku menyambutku di daun pintu. Bercanda dengan anakku. Berusaha membuatnya tersenyum. Senyum bayi yang polos , tulus dan menyembuh letih.

Ketika anakku mulai belajar kata-kata. Aa...yah. Ayah. Dia memanggilku ayah. Sungguh, tidak ada kebahagian seorang lelaki selain menjadi seorang ayah seperti yang sedang kualami. Setiap bibir mungilnya memanggilku. Aku selalu berdesir. Kini aku seorang ayah. Seorang ayah. Oh...

Usiaku 32 tahun kini. Aku benar-benar menjadi lelaki dewasa. Ayah dari tiga orang anak. Aku tak menyesali keputusanku menikah muda kala itu. Diusiaku kini, saat teman-temanku masih sibuk memilah dan memilih wanita untuk calon istrinya. Aku sudah memiliki semuanya. Seorang istri yang sholihah, keibuan, menentramkan dan cantik dimataku serta 3 anak yang manis dan lucu. Menikah telah membuat masa mudaku lebih bermakna, terjaga dan tertata. Dan satu hal yang banyak ditakuti lelaki muda sebelum menikah adalah masalah nafkah. Tak usah takut Boy, aku sudah buktikan. Menikah itu membukakan pintu rezekimu. Asal kau mau bekerja rezeki akan datang padamu.

Bingung memilih wanita yang akan jadi ibu bagi anakmu? Kau lelaki. Kau berhak memilih. Pilihlah wanita yang cantik dimatamu. Ya cantik dimatamu. Karena di dunia ini banyak wanita cantik dan seksi Boy. Cukup pilih satu saja wanita yang cantik dimatamu, menentramkanmu.  Tak hanya cantik dimatamu, pilih juga wanita yang sabar, keibuan dan cerdas. Karena dia yang akan mendidik anak-anakmu nantinya. Kecerdasan seorang anak, biasanya menurun dari ibunya.

Nah, bagi yang gadis. Pilihlah lelaki yang mencintaimu. Dengan cintanya dia akan melindungimu dan bertanggung jawab atas dirimu dan anak-anakmu. Lihatlah bagaimana ia menjaga shalatnya, bagaimana ia bersikap menghadapi sebuah peristiwa. Apakah ia memakai amarahnya atau logikanya. Jangan menjadi gadis yang materialistik. Meskipun dia yang melamarmu belum berpenghasilan secara mapan, setidaknya ia sudah bekerja. Percayalah, seorang lelaki saat ia niat menikahi wanita pasti semangat kerja dan tanggung jawabnya berlipat. Aku salah satunya .

Cantik, tampan. Semakin bertambah usia dia akan menua. Keriput. Peot. Mana cantik yang dulu kau banggakan? Mana tampan yang dulu kau puja? Semua telah dicipta sesuai takarannya. Cantik dimatamu saja. Yang penting akhlak dan ilmunya. Akhlak dan ilmu yang dimiliki wanitamu tak akan keriput meski ia telah menua.

*Suatu sore di rumahku...
Kumasukkan motor, kukunci gerbang rumah. Kudengar derap lari  putri-putriku. Ayah pulang!!!   Tangan-tangan kecil itu menyambut dan mengecup tanganku. Kugendong  si Tengah dan si Bungsu di kedua tanganku. Si Sulung membawakan tas kerjaku memberikannya pada istriku. Dia yang masih sama seperti dulu. Menyambutku dengan senyuman. Senyum termanis hanya untukku. Tak lupa sebuah pelukan. Pelukan cinta dari keluarga tercinta. Fabiayyi alaai Rabbikuma Tukadziban?





Bagiku, inilah cinta yang sebenar-benarnya. Menjaga, dijaga dan penjagaan. Cinta yang tak merubah, tapi menuntun perlahan. Kutuliskan kisah ini untukmu Kawan. Kisah nyata dari seorang kakak ipar. Kisah yang dituturkan padaku sebagai pelajaran. Agar  kisah ini tak hanya sampai padaku. Kutuliskan disini untukmu. Untuk kita
Bahkan sebuah kisah hidup bisa menjadi tulisan. Yuk berbagi kisah melalui tulisan! 
 Rizza Nasir




Tidak ada komentar:

Posting Komentar