Selasa, 06 September 2011

[Kenangan Masa Kecil] Uang Dari Kuku

Bila sekarang anak-anak dimanjakan dengan aaneka tempat wisata dengan bermacam-macam wahana, maka tanah dan pasir di kebun atau halaman ruma, adalah arena bermain yang mengasyikkan buatku.Kala itu aku dan keluargaku masih tinggal serumah dengan mbah putri, ibu dari ayahku. Arena berrmainku adalah halaman rumah mbah yang luas dan kebun yang penuh dengan pepohonan, nyaman rasanya berlama-lama bermain disana.

 Setiap hari setelah pulang sekolah (TK-kelas 2 SD) aku dan teman-teman sebayaku selalu bermain bersama. Mulai dari masak-masakan, boneka-bonekaan (Boneka dari dahan dan daun pisang), dakonan ( permainan tradisional, melubangi tanah sebanyak 10 lubang, berhadapaan dengan dua lubang berukuran lebih besar di setiap sudutnya. Dimainkan dengan kerikil atau batu kecil ,masing-masing lubang 10 biji, lubang yang besar kosong), setrengan (lompat tali), membuat kue-kue dari  tanah dll. Entahlah apakah sekarang masih ada permainan masa kecil saya itu.



Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, aku termasuk bocah yang malas bila disuruh potong kuku. Setiap hari bergulat dengan permainan yang langsung bersentuhan dengan alam, membuat kuku dalam jari kecilku ini menghitam. Ya. Sela-sela kukuku dipenuhi pasir bekas bermain kue-kuean atau masak-masakan.


Tapi entah kenapa aku selalu malas bila bertemu dengan benda dari aluminium dengan penjapit kecil itu. Padahal setiap hari Senin guru kelasku tak pernah absen memeriksa kuku murid-muridnya. Usai upacara bendera, ritual keramat kami adalah berbaris rapi empat banjar. Hanya barisan yang paling rapilah yang boleh masuk kelas pertama kali. Setelah mengikuti pembacaan Pancasila dengan teriakan sekuat tenaga. Tibalah saat menegangkan bagiku, yakni saat seluruh telapak tangan harus diletakkan diatas meja. Aku manut saja. Meskipun dalam hatiku ketar-ketir. Berharap Bu Guru tidak melihat tanganku. Bu Gati, begitulah aku biasa memanggil guru kelas 1 ini. Perawakannya yang langsing dan mungil dengan rambut keriting kecil sebahu, sama sekali tak menyeramkan bagiku. Yang membuatku begidik adalah penggaris  kayu 60 cm yang menjadi senjatanya untuk membuat kami jera. Memukul jari siapa saja yang  kukunya masih panjang.

Berkali-kali aku lolos dari ‘kekejaman ‘ penggaris itu. Tapi hari itu mungkin adalah hari naas bagiku. Penggaris kayu setebal  satu cm dengan panjang enam puluh cm mendarat di jari tanganku dengan sukses!!!!. Akupun meringis pasrah. Rupanya malam tadi aku terlalu asyik nonton sinetron Bidadari hingga aku lupa membersihkan kukuku. Hanya kubersihkan tanpa dipotong. Degan bermodal sebatang lidi  kubersihkan sisa-sisa tanah yang bersembunyi dibalik kukuku yang lumayan panjang, untuk ukuran anak kelas satu SD. Mujarab!!!!. Kukuku bersih putih, meski tak dipotong.

Sepulang sekolah, seperti hari-hari sebelumnya aku selalu menceritakan apa yang kualami pada ibuku. Hari ini ceritaku bukan tentang mata pelajaran atau kalah main bola bekel. Bukan cerita riang tapi tragedi mengenaskan tentang kukuku yang kena setrap Bu Gati. Bukannya prihatin, ibuku malah tertawa terbahak-bahak, beliau malah menyalahkan kebebalanku.
“Sudah tahu kan akibatnya, mulai sekarang kalo didawuhi ibu manut ya mbak, lagipula kuku yang tidak dipotong itu sarang kuman. Banyak cacing-cacing kecil ada disitu”, ibu membujuk
“Tahu nggak, kalo potongan kuku itu bisa jadi uang lho”, kata ayahku
Alisku terangkat, masak iya???

Akhirnya dengan senang hati kupotong kuku-kuku panjang itu, berharap kuku itu berubah jadi lembaran uang receh. Lumayan bisa nambah isi celenganku berbentuk kendi terbuat dari tanah liat itu. Benar saja, satu persatu kuku panjangku tandas. Kukumpulkan satu persatu. Ha... lengkap!!!! 20 buah potongan kuku berbentuk bulan sabit kecil-kecil itu.

Esok harinya, dengan semangat 45, aku berlari ngalor ngidul sepanjang jalan samping rumah yang langsung tembus dengan persawahan dengan tangan yang menggenggam potongan kuku kuat-kuat. Berharap potongan itu berubah jadi uang. Tapi ternyata jauh panggang dari api Kawan!!!.  Kukuku tetap menjadi kuku. Malah sekarang bentuknya tak lagi bulan sabit kecil tapi bulan sabit yang patah. Kukuku itu tak beraturan akibat terkena tekanan kuat genggaman tanganku. Hmmmm....sebel...

Ternyata aku dibohongi Kawan!!!. Bila ingat pengalaman konyol itu , aku selalu ingin tertawa. Bagaimana tidak, betapa bodohnya aku saat itu. Mana mungkin potongan kuku jadi uang. Rupanya kebohongan itu dikatan padaku agar aku mau potong kuku dan mau lari pagi. Tak apalah toh, sebelum berangkat sekolah aku mendapat uang saku dari ibuku. Tiga ratus rupiah. Cukup.

Menurutku menjadi anak yang terlahir dari keluarga keturunan jawa sebuah nilai plus tersendiri. Banyak sekali permainan tradisional yang filosofis disana. Cara mengajarkan sebuah keteladananpun didasarkan pada kehidupan nyata yang mudah dicerna. Meski kadang terasa konyol dan mustahil, tapi nyatanya aku riang menjalaninya lambat laun akupun mengerti apa maksudnya. Sebuah ajaran kehidupan yang diajarkan dengan cara yang sederhana. Apakah filosofis kuku menjadi uang hanya ada di desaku atau bahkan di keluargaku saja,aku tak tahu. Kawan apakah kau pernah mengalami kekonyolan sepertiku????



tulisan ”Proyek Nulis Buku Bareng : Kenangan Masa Kecil ” informasi lebih lanjut silahkan buka  http://on.fb.me/nRmEPz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar