Tampilkan postingan dengan label Diary Rizza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Rizza. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2015

TAK ADA SAHABAT LAMA

Tiga hari ini, saya kedatangan tamu dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dia adik kelas saya tapi sebenarnya kami seusia. Dia memanggil saya Mbak Rizza dan saya memanggil namanya. Lia. Susah bagi saya memanggil Dek Lia, karena senyatanya kami seusia. Saya tak merasa lebih senior dari dia meskipun kakak tingkatnya. Saya juga tak merasa lebih dewasa sehingga harus memanggilnya "Dek" Bagi saya, memanggil namanya sudah cukup.


Setahun terakhir menjadi mahasiswa UIN Malang, saya dan Lia tinggal dalam satu kontrakan di daerah Joyoraharjo, ada 9 orang dalam satu rumah itu. Seiring waktu kami bersembilan  benar-benar layaknya saudara. Dekat, akrab. Lia, Lala, Navis, Arum, Alak, Nada, Didi, dam Luluk.. Nama yang akan saya ingat sampai kapanpun.


Meski sudah setahun tidak bertemu ditambah lagi saya hijrah ke Yogyakarta, saya dan teman-teman tak hanya terpisah jarak. Komunikasi pun jadi jarang. Rasa-rasanya bisa berbalas sms, chatting atau komentar di status facebook sudah bahagia tersendiri. Obat kangen.

Minggu, 15 Februari 2015

IN MEMORIAM : SETAHUN LETUSAN GUNUNG KELUD (15 FEBRUARI 2014)

Anak Gunung Kelud Sebelum Erupsi

Cepat sekali waktu berlalu, sudah setahun sejak Gunung Kelud meletus. Aku masih sangat ingat malam itu, dan hari-hari setelahnya. Mungkin, aku tak pernah lupa!

Malam itu pukul 22.00 tanggal 15 Februari 2014. Kami sekeluarga, ayah, ibu, aku, Faisal dan Farid sudah bersiap istirahat, tamu yang membesuk ayahku sudah pulang semua. Ayah juga sudah terlelap, alat bantu jantung masih terpasang, tapi oksigen di hidungnya sudah dilepas. Aku lega! Kuharap malam ini aku bisa tidur lebih nyenyak dari sebelumnya.

Adikku, Faisal dan Farid juga sudah menggelar karpet di luar kamar, biasanya mereka tidur disana, kemulan sarung berdua. Selama hampir dua minggu ini, hampir tiap malam, dua adikku itu tidur di luaran. Sesekali sambil membawa buku sekolah, atau buku les. Mereka berdua memang harus bersiap menghadapi ujian akhir nasional. Faisal kelas 3 SMA, Farid kelas 6 SD. Kadang aku tega, mereka harus konsentrasi penuh sekolah tapi disaat yang sama ayah sedang sakit parah. Paling parah dari yang sebelum-sebelumnya.

Tapi aku bisa apa? Aku cuma bisa berdoa untuk kesembuhan ayah, bahkan aku selalu meminta yang terbaik untuk ayah, karena memang sudah sangat parah. Aku tak tega melihat ibu menangis setiap hari. Hanya doa itu saja! Apapaun yang terjadi aku berusaha menyelesaikan skripsiku. Setahun lalu, tepat di awal 2014, aku adalah mahasiswa dengan skripsi yang galau, selesai tidak, selesai tidak. Tapi karena ayah sakit begitu. Aku katakan pada diriku. “Harus selesai! Atau kamu akan menyesal Za!”

Aku membuka file skripsi, ingin kujabarkan lima halaman lagi sebelum tidur, tapi tayangan TV One yang sedang dilihat ibu menyita konsentrasiku. Berita itu mengatakan kalau status Gunung Kelud berubah menjadi awas! Kemungkinan besar akan meletus malam hari ini. Ini bukan saatnya mengerjakan skripsi! Ibu menelepon Bulik El, menanyakan bagaimana kondisi desa kami, Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, tempatku tinggal hanya berjarak 25 km dari Gunung Kelud. Beberapa waktu sebelumnya, pos pengungsian sudah dipersiapkan dibeberapa sekolah. Pendek kata, kami sudah siap kapanpun Kelud akan meletus.

Sabtu, 31 Januari 2015

ASA UNTUK LELAKIKU

Aku masih harus mencetak beberapa kue bolu kukus ketika Farid memintaku merapikan bajunya. Baju kokonya. Ia akan diantar ke mantri setengah empat sore. Ya, dia akan khitan. Sunat! Sebenarnya sudah lama aku menantikan saat-saat ini, aku cukup khawatir dengan zakarnya yang kecil. Apakah itu normal untuk seorang lelaki seumurnya? 

Farid memang gemuk sejak kecil, mungkin itulah yang menyebabkan pertumbuhan zakarnya kalah oleh lemak ditubuhnya. Aku sudah cukup lega ketika tahu kabar itu, meski aku harus menahan malu menanyakannya pada lelaki yang kupercaya. Lebih baik aku malu daripada aku harus acuh pada adikku! Sebagai kakak perempuan, sudah naluriku memperhatikan hal sedetail itu.

Kamis, 04 Desember 2014

APAKAH KAMU PERNAH MENANGIS?


Ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan pada saya, “Rizza, apakah kamu pernah menangis?” Sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna. Sebagai manusia biasa saya tentu pernah menangis. Dulu awal kelahiran saya juga diawali tangisan. Saya menangis sesaat setelah saya dikeluarkan secara caesar dari perut ibu. Entah apa alasannya saya menangis saat itu, Mungkin saya bertanya pada Tuhan, “Kenapa saya harus lahir sekarang? saya masih ingin di rahim ibu lebih lama lagi” 

Kelahiran saya juga diwarnai tangisan ayah saya, lelaki perkasa itu hampir tak pernah menagis sebelumnya, tapi setelah saya lahir, ia menangis untuk saya. Entah, itu tangis bermakna apa, bahagia karena kelahiran saya atau sedih karena kondisi saya. Kata nenek ayah bergumam begini dalam tangisnya, “Kenapa putriku kecil begini? Hitam lagi? Apa dosaku? Tolong biarkan dia hidup Tuhan!”

Selasa, 18 November 2014

KANGEN AREK MALANG




Yokpo kabare rek? Duh kangen banget aku...
Malang dan seisinya. Aku kangen. Rindu. Entah bahasa apalagi yang bisa  diwakilkan untuk perasaan ini. Tapi serius, aku harus mengakui, sejujur-jujurnya kalau aku memang kangen arek Malang. Baiklah, malam ini aku akan menelisik jejakku di Malang sana. Masih adakah?

Tiga tahun sembilan bulan bukanlah waktu yang sebenatar untuk menjalani kehidupan, tapi juga bukan waktu yang lama untuk merangkai kenangan. Dalam waktu itu, aku tumbuh dari remaja SMA labil menjadi gadis dewasa. Malang telah mengajariku banyak hal. Tentang perjuangan, tentang pembelajaran, tentang mimpi dan lika-liku menuju kedewasaan. Semua kudapatkan sepaket selama di Malang. Jadi sangat wajar jika akhirnya aku merasakan kerinduan yang sangat pada Malang.

Awalnya aku adalah gadis desa biasa. Baru lulus SMA dan untuk pertama kalinya pergi dan hidup jauh dari orang tua di kota yang berbeda. Ada adapatasi, ada teman baru, kultur pembelajaran yang baru dan suasana yang baru. Seiring waktu berjalan dan semesterku yang semakin menua, semua yang baru itu menjadi lama, dan yang lama itu menjadi melekat. Erat

Sampai suatu hari, tepatnya Sabtu, 10 Mei 2014. Aku harus pulang! Pulang ke kotaku di Kediri dengan membawa gelar sarjanaku. Sehari setelahnya, aku benar-benar merasa kehilangan semuanya. Saat itu aku bukanlah siapa-siapa. Bukan mahasiswa dari sebuah kampus, bukan anggota organisasi, bukan guru privat, bukan anak kontrakan. Aku kembali menjadi diriku seutuhnya. Rizza Nasir. Putri Pak Nasir. Tidur di kamarku sendiri dan melakukan aktivitas selayaknya anak perempuan di dalam rumahnya.

Lalu, aku seperti orang kelimpungan. Aku harus di rumah saja, karena harus menjaga ayah yang sakit. Tak ada lagi sore dengan kegiatan organisasi, pagi dengan kesibukan kuliah dan malam dengan anak-anak privat. Semua itu tak ada! Tak ada! Yang ada hanyalah laptop, televisi, dapur dan keponakan-keponakan kecil. Sebagai orang yang biasa aktif, berada di rumah terus-terusan seperti ini nyaris membuatku gila. Sejenak aku berpikir, beginikah rasanya jika seorang aktivis menjadi ibu rumah tangga? Apakah Allah hendak melatihku agar aku tak kaget nantinya? Mungkin saja!

Selasa, 28 Oktober 2014

DAGING KURBAN PERTAMAKU




Mungkin agak aneh di dengar, tapi memang baru tahun inilah aku mendapatkan daging kurban pertamaku. Tahun-tahun sebelumnya, ibuku yang mendapatkannya, ibu yang mengurusnya. Dari mulai membersihkan daging sampai memasaknya, mungkin aku hanyamembantu menguliti bawang atau bumbu yang lain, selebihnya ibu yang memasak daging itu, kami sekeluarga tinggal makan saja.

Lagipula, aku agak jijik melihat gajih sapi atau kambing. Lembek-lembek gimana gitu. Belum lagi baunya, pyuwhh.. kalau sudah mengurus daging kurban, baju, kerudung, badan dan rambut semuanya bau daging.  Alat masak bekas daging pun setelah dicuci kadang baunya masih melekat. Itulah yang membuatku ogah-ogahan mengurus daging kurban. Kan ada ibu.

Tapi tahun ini berbeda. Ibu dan ayah sedang berhaji, aku pun tak pulang ke Kediri. Memilih tetap di Jogja, meski menyesakkan takbiran sendirian semalam. Ternyata, tiap rumah termasuk anak kos juga mendapatkan jatah daging kurban. Sementara teman kosku yang lain merasa tidak bisa memasak, merasa tidak bisa mengurus daging dan jijik dengan daging mentah. Akhirnya semua sepakat menunjuk diriku! Dengan asumsi akulah yang paling sering uthek-uthek di dapur selama ini. Alamaak! Andai mereka tahu, kalau aku juga belum pernah mengurus daging sendiri! Andai... andai... Ah..

TAKBIRAN SENDIRIAN




Takbiran sendirian, tanpa ada ayah, ibu dan adik-adik. Menyesakkan memang, tapi inilah kenyataan. Mungkin juga ini satu alasan kenapa Indonesia begitu akrab dengan tradisi mudik menjelang hari raya Idain. Karena mereka tak ingin takbiran sendirian dan tak ingin diselimuti kerinduan menyesakkan.

Bagi orang lain, mungkin Idul Adha tak sesakral Idul Fitri, yang harus bersama keluarga, bela-belain pulang meski harus berdesakan, meski harga tiket mahal. Tapi bagiku Id tetap Id. Takbiran tetap tetap takbiran. Dua hari raya ini begitu istimewa, tapi kali ini terasa sangat berbeda.

Biasanya, malam Id, kami sekeluarga sudah sibuk dengan pekerjaan kami. Faisal dan Farid, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan kaca, atau menata karpet untuk tetamu, sedangkan aku dan Ibu, menyapu rumah, membersihkan meja-meja, menggantinya dengan taplak cantik lalu menata hidangan di atasnya. Sehari atau dua hari sebelumnya, biasanya kami sibuk membuat kue kering rupa-rupa. Jika semua itu sudah selesai, baju-baju untuk shalat Id menunggu disentuh. Koko atau hem Faisal dan Farid, Koko Ayah, sarung mereka, baju ibu dan bajuku harus disetrika,  kalau perlu disemprot dengan pewangi. Semua itu sudah menjadi kebiasaan tiap tahun. 

Malam ini, tak ada semua itu. 

Senin, 28 Juli 2014

Membangunkan Mimpi



Sejak lulus kuliah dua bulan lalu, tepatnya 10 Mei 2014 aku menghabiskan waktuku di tanah kelahiranku, sebuah desa bernama Jarak di Kabupaten Kediri. Kuhabiskan pagi hingga malam sebagai seorang putri. Bersih-bersih rumah, beres-beres perkakas dan pakaian juga membantu ibu memasak. Yang terpenting adalah menjaga ayahku yang sudah tak bisa melakukan semua aktivitasnya sendirian. Jika semua pergi, maka tinggal aku dan ayah.

Aku mengubur dalam-dalam mimpiku untuk S2 ke Australia, mimpi untuk S2 di Jogja dan mimpi mengunjungi kota-kota yang ada dalam novel di negeri ini. Ya, sejak dulu aku selalu bermimpi menginjakkan kaki di tanah Belitong tempat Si Ikal Laskar Pelangi. Aku bermimpi menginjak tanah Minang, tempat Hamid Di Bawah Lindungan Kakbah. Aku bermimpi menginjak Aceh, tempat Delisa. Sejak aku membaca novel 99 Cahaya Di Langit Eropa 1,5 tahun lalu, aku mulai berani bermimpi ke luar negeri. Aku ingin ke Eropa, Winna, ingin melihat yang dikisahkan Hanum, aku ingin ke Jepang, menelisik rahasia sukses pendidikan disana dan aku ingin ke Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan anak terbaik di dunia. Dan yang terpenting, aku ingin wukuf di Arafah dan aku ingin menciun Kakbah.

Hari dimana aku memutuskan menyudahi mimpi itu benar-benar hari yang berderai. Aku memutuskan untuk tidak S2, di rumah saja. Menghabiskan waktu merawat ayahku yang menua dan sakit-sakitan, menerima semua amarahnya dengan lapang dada dan tak mau memberatkan ibuku untuk urusan keuangan, karena aku masih punya dua adik yang harus sekolah setinggi aku. Aku menangis sejadi-jadinya meski aku sedang berpuasa. Aku tak bisa menyembunyikan kesedihan dan air mataku. Hanya Allah dan aku yang tahu. Karena aku sudah berjanji, aku tak akan menangis di depan ayah dan ibuku lagi.

Sabtu, 26 Juli 2014

Belajar Dari Iklan PERTAMINA:

Iklan tersebut menayangkan seorang ibu yang sudah lanjut, mengalami kepikunan. Tidak mau makan, mencari suaminya yang telah meninggal dan menata baju untuk mudik padahal jadwal mudik masih lama.

Melihat iklan itu aku tertegun. Ya, orang tua yang sudah lanjut memang seperti itu. Aku sendiri merasakannya. Ayahku, beliau kadang sabar, kadang marah besar untuk hal-hal sepele, kadang begitu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Tak bisa melihat apapun, pendengaran berkurang dan tak bisa melakukan apa-apa sendiri kecuali sholat. Itupun di atas kursi roda dan bertayamum. Belum lagi harus menjalani hemodialisa dua kali seminggu, tiap Selasa dan Jum'at. Ya, aku paham, siapa yang tidak bosan terus-terusan di kamar dan di atas kursi roda? Siapa yang tidak nelangsa jika dulunya bisa melakukan apa saja sekarang tak bisa apa-apa? Aku mencoba mengerti.

Kuakui, sulit sekali berada pada posisi seperti ini. Ayah yang sakit, ibu yang harus bekerja, adik-adik yang masih sekolah. Sementara aku sendiri masih memiliki banyak impian. Ideaalisme dan keinginan yang sangat besar untuk mengajar, kuliah lagi dan menambah pengalaman di kota lain bahkan bila memungkinkan negara lain. Ingin kesana dan kesana, ingin bertemu dia dan dia. Tapi jika aku begitu, bagaimana dengan ayahku? Tegakah aku membiarkan ia di rumah sendirian? Seperti yang selama ini dialaminya selama aku menyelesaikan kuliahku di Malang.

Melihat teman-teman dengan status-statusnya, dengan sms-sms informasi kesuksesannya kadang ada rasa ingin juga seperti mereka. Ingin mencoret mimpi-mimpi selanjutnya. Cemburu. Sangat cemburu. Begini ya rasanya cemburu?


Sabtu, 12 Juli 2014

REUNI BANI YASIN TAHUN INI




Kalau aku tak salah hitung, tahun ini adalah tahun kesembilan sejak reuni Bani Yasin dilaksanakan pertama kalinya tahun 2005. Jika reuni dilaksanakan dua tahun sekali maka tahun ini adalah reuni kelima. Pertama kalinya dilaksanakan, aku masih kelas 2 MTs. Bagaimana dengan kalian? ^_^ Disadari atau tidak, selama periode sembilan tahun ini banyak yang terjadi di Bani Yasin. Ada yang lahir ada pula yang wafat, ada yang dulu masih sendiri, sekarang sudah menikah. Ada yang dulu sedang hamil, sekarang anaknya sudah bertambah lagi. Ada yang dulu masih anak-anak sekarang sudah remaja. Ada yang dulu pengangguran sekarang sudah mapan. Ada pula yang dulu masih muda sekarang mulai menua. Ya, sembilan tahun bukanlah waktu yang lama, tapi juga bukan waktu singkat untuk menikmati proses hidup itu.


Reuni dua tahunan sekali yang digagas oleh bapak ibu kita, pada akhirnya adalah ritual rutin yang berhasil mengumpulkan anak cucu cicit Mbah Yasin. Seorang lelaki luar biasa, yang punya empat istri dan dua puluh tujuh putra-putri. Mbahkungku, Mbah Effendi adalah anak Mbah Yasin dari istrinya yang pertama, dan ayahku adalah cucu Mbah Yasin, entah cucu keberapa. Jika aku saja tak tahu ayahku cucu nomer berapa, maka aku lebih tak paham lagi, aku ini buyut nomer berapa. Bisakah kalian merunutnya, nasab kalian sendiri?

Sabtu, 05 Juli 2014

Doa dan Diary 22



Hari ini, 5 Juli. Hari ini mungkin bukan hari yang istimewa bagi banyak orang. Pun bagiku, meski hari ini adalah hari kelahiranku. Aku hampir saja melupakannya kalau temanku tak mengingatkannya. Aku baru tahu, kenapa semalam aku tak bisa tidur. Padahal waktu sudah larut. Barangkali mengaji adalah cara yang tepat agar ngantuk. Oh tidak, maksudku, kalau sudah banyak halaman yang kubaca, biasanya mataku akan lelah dan mengantuk. Untuk itulah semalam aku hanya bisa mengaji, dan memejamkan mataku segera setelah kantuk tiba, karena aku sudah ingin tidur sejak tadi.

Sebelum tidur, biasanya aku menulis dan di akhir tulisanku, aku selalu menyertakan dimana aku menulis berikut tanggalnya. Aku menuliskan 4 Juli semalam, harusnya aku sudah ingat sejak semalam ya? Tapi jujur, bagiku ulang tahun bukanlah hal yang spesial, dari kecil kedua orang tuaku tak pernah membuat hari kelahiran itu spesial, perayaan ulang tahun? Kalau saja di usia 5 tahun bukanlah beberapa bulan setelah aku bisa berjalan, aku mungkin tak akan pernah merasakan kue ulang tahun dan meniup lilin. Ya, di usia 5 tahun itulah perayaan ulang tahun pertamaku, niatnya adalah syukuran karena akhirnya gadis kecil Pak Nasir itu akhirnya bisa berjalan.

Senin, 30 Juni 2014

Puasa Pertamaku



Aku pernah membaca 'Semua yang pertama itu selalu terkenang, tak bisa dilupakan' begitu pula dengan puasa pertamaku. Puasa pertamaku kelas 1 SD, kala itu usiaku 6 tahun. Entah ini namanya puasa atau tidak, jika sahurku pukul enam pagi dan buka puasa adzan dhuhur. Sebelum berangkat sekolah aku di dulang ibu, katanya ini sahur. Kalau anak kecil sahurnya jam segini, namun sahur jam enam pagi ini hanya berlangsung beberapa hari, selebihnya sahur seperti seharusnya yakni pukul tiga pagi, tapi tetap saja berbuka setelah adzan Dhuhur. Poso mbedug


Tahun selanjutnya, kelas 2 SD aku mulai puasa sampai bedug Maghrib. Sebagai pemula, tentu godaan yang kurasakan besar sekali. Harus sekolah pula, pulang sekolah sudah pasti perut krucuk-krucuk. Belum lagi kalau diajak dolan. Duh bawaannnya pengen batalin puasa deh. Nggak sekali dua kali kalau ada biskuit di rumah aku sering minta pada ibu begini "Buk, aku mokel ya... pisan iki ae"

"Kok mokel? Yo batal posone! Eman" kata ibu

Senin, 19 Mei 2014

Diary 10 Mei



Aku biasa menghafal kata-kata sejak kecil. Jika ada kata atau percakapan yang kurasa bagus, aku mengingatnya. Salah satunya, percakapan yang terjadi saat usiaku 4 tahun. Saat itu aku baru bangun tidur, aku selalu menangis saat bangun, selalu marah kalau disuruh mandi

Aku masih sangat ingat, saat aku masih menangis dan ginjal-ginjal. Ibuku bilang pada ayahku begini “Mas, Rizza wis wayahe sekolah, bocah etan wes akeh sing daftar ning Bulek Dayah”
“Ora usah sekolah dhisik, wong urung iso mlaku ngono, malah ngrepotne gurune”
“Tapi...”
“Wes to, ben iso mlaku dhisik!”
Tegang.

Mbah Putri (ibu dari ayah) keluar dari kamar dan mencoba menenangkanku yang masih menangis.
“Yo gak popo Sir (Nasir) daftarne ae, engko lek weruh koncone mlaku, Rizza mesti pengen mlaku”, “wes gak usah nangis Nduk, sesuk sekolah, lek sekolah gak oleh nangisan”

Percakapan itu, masih terekam, yang terjadi pagi itu juga masih terbayang. Hari ini, entah kenapa aku teringat Mbahku, perempuan yang meninggal 14 tahun lalu.

Benar saja, satu bulan setelah masuk TK aku bisa berjalan! Dengan teman-teman yang berjajar disamping kiri kanan, dan aku berjalan bolak balik dari ujung ke ujung. Disana sudah ada guru yang memantiku menghampirinya. Teman-teman bertepuk tangan, dan aku semakin semangat berjalan.

Di rumah tak jauh beda, yang bertepuk tangan adalah mbahku dan paklik bulikku, yang berada di ujung kanan dan kiri adalah ayah dan ibuku. Aku dan adikku Faisal berlomba berjalan. Ya, aku berumur empat tahun dan adikku kurang dari setahun, Allah menakdirkan kami bisa berjalan dalam waktu bersamaan. Siapa yang sangka? Orang tua mana yang tak bahagia?

Aku tak tahu ada apa dengan kakiku, yang kutahu, jalanku tak seperti kalian. Bukan, aku bukan terkena polio, aku juga bukan mengidap penyakit tulang. Besar kakiku sama, panjangnya pun sama. Lalu kenapa? Wallahu’alam.

Jika kalian bisa sekolah dengan bahagia dan tenang, aku pun begitu. Tapi, aku hanya harus berusaha sekuat tenaga membangun kepercayaan diriku. Tentu saja dengan cara berjalan seperti ini banyak mata melihatku. Sejak kecil aku terbiasa dengan itu. Jika mereka menatapku keheranan aku membalasnya dengan senyuman. Tak ada yang mengajariku begitu, itu caraku menutupi malu.

Jujur, tak banyak yang tahu, bahkan keluargaku, bahwa aku pernah merasa malu. Bahwa aku pernah diejek teman-temanku.
“Helah bocah dingklang”
“Ssttt, ada Mbak Rizza, ngesakne yo”
“He, ojo disawang, marai ketularan!”

Sabtu, 29 Maret 2014

Apakah Ini Pesan Terakhir?



Andai aku punya waktu lebih lama berada disini, tentu aku akan senang sekali. Ya, akan kujaga kau setiap hari, selalu ada setiap kau memanggilku dan membutuhkanku. Sayangnya aku tak punya waktu itu Yah, aku harus berkutat dengan urusan kuliahku. Aku hanya ingin membahagiakanmu dengan kelulusanku. “Aku berangkat dulu ya Yah” bisikku di telingamu. Kau hanya mengangguk dengan mata tetap terpejam.

Malam hari itu, pukul tiga pagi. Lorong rumah sakit masih sangat sepi. Kutarik koperku berlahan, agar tak mengganggu pasien di kamar lainnya. Ibuku menguntit di belakangku. Pamit pada ibu adalah ritual sakral setiap keberangkatanku, apalagi harus berangkat dari tempat pesakitan seperti ini. Menyesakkan.

“Kalau mau menikah, menikah saja.... Kalau sudah ada calon bilang saja, haha”, “nanti kamu tak belikan rumah, kamu bisa buat kos-kosan. Jadi ibu kos saja, kamu tinggal duduk di rumah, ngurusi anak dan suamimu, tiap bulan uang datang. Kamu nggak usah susah cari uang Nduk” terngiang kata-kata ayah malam itu. Malam mencekam, panasnya tinggi, matanya, terpejam dengan mulut yang tak pernah berhenti bicara. Kata-kata yang belum pernah terucap sebelumnya.

Kata-kata ayah barusan, mungkin ia ucapkan tanpa sadar. Keluar begitu saja. Mungkin merupakan isis hatinya yang sudah ia pendam sejak lama. Aku menikah? Sebenarnya aku tak takut menikah. Pertanyaannya sederhana saja. Menikah dengan siapa? Apakah ayah sudah punya calon untukku? Oh tidak, bukankah ia bilang kalau sudah punya calon bilang saja? Ah... aku masih skripsi ayah. Kalau boleh jujur, aku sempat kacau gara-gara ceracau itu. Ayah, belum ada siapa-siapa, lalu aku harus bagaimana?

Aku pernah berjanji, bahwa aku tak akan menangis lagi padanya, tapi malam itu, bagaimana bisa aku tak menangis? Ayah terus merapal, menceracau, Merapal pesan-pesan. Sebentar-sebentar menyebut namaku dan mengucap pesan untukku, lalu mencari adikku, Faisal. Faisal datang, dan ia mulai lagi merapal pesan. 

Selasa, 28 Januari 2014

Maaf, Aku Mencintainya

Sejak aku mulai mengenal dunia tulis menulis sekitar tahun 2007 aku berniat untuk serius menulis atau menjadi penulis. Saat itu aku  bergabung di ekstrakurikuler Pers Jurnalistik MAN 3 Kediri. Karena masih masa 'penjajakan' jadi aku hanya menulis saat ada tugas dari kakak kelas saja. Namanya tugas mingguan, aku pun juga jarang mengerjakan karena saat itu lebih tertarik untuk menjadi penyiar di radio sekolah. Tertarik bicara daripada menulis.

Mulai tergugah menulis kembali tahun 2010, awal menjadi mahasiswa dan tergabung di Forum Lingkar Pena Cabang Malang. Rasanya iri, melihat semua teman satu organisasi menulis. Dimuat di majalah ini, majalah itu. Menang lomba ini, lomba itu. Apalagi setelah diberi amanah baru 'merawat' FLP Ranting UIN Malang dan punya 'adik binaan'. Semakin terlecutlah untuk menulis dan menulis. Lebih banyak lagi. Jika aku saja tak mau menulis. Bagaimana dengan mereka?

Sebenarnya sudah sejak lama aku menjadi penulis diary, setiap malam sebelum tidur selalu tak pernah absen 'berbicara' lewat tulisan tangan itu. Apakah menjadi penulis diary itu menyenangkan? Ya, menyenangkan, karena semuanya 'terekam' dengan pasti. Motivasi juga terus terjaga. Hanya saja tulisan itu tak akan pernah terbaca. Mungkin terbaca, tetapi hanya untuk orang terdekatku saja.

Senin, 27 Januari 2014

DILEMA AIRA




“Bagaimana? Mau dia diputusin?”

“Nggak mau, dia minta kesempatan biar dia bisa berubah” begitu kata Aira padaku. Berubah? Duh, itu pasti cuma trik dia saja biar tetap sama kamu. Tetao nyakitin kamu.

“Aku kecewa sama Abah” katanya sesenggukan didepanku. “Kenapa dengan Abah?, kamu tadi telepon Abah, terus beliau bilang apa?” aku penasaran

“Kata Mas, beliau bilang kalau Abah nggak ngebolehin kita putus”

“Ha?, kamu serius Ra? Bukannya kemarin kamu sudah...”

“ Makanya aku kecewa” Aira semakin terpuruk dalam bantalnya. Duh, inikah cinta?  

Kamis, 16 Januari 2014

BERLIBUR DENGAN AYAT-AYAT CINTA



Melihat mereka memeluknya dan memejamkan mata dengan mulut terus merapal ayat-ayat cinta. Aku cemburu

Seharian kemarin, aku sengaja, mengosongkan hari itu untuk tidak pergi ke sekolah dan bertemu teman kecil dan guru-guru. Di sekolah sedang ada perayaan maulid nabi, ada pengajian dan shalawat bersama, sudah bisa dipastikan tidak ada aktifitas belajar mengajar dan tentu saja aku tak bisa penelitian.  Aku memilih menggunakan hari itu untuk menyelesaikan administrasi kampus dan pergi ke bank membayar uang kuliah.

“Mbak Rizza, nanti selesai dari bank jangan pulang dulu ya, tunggu aku di Mastar (Masjid Tarbiyah UIN Maliki Malang), aku mengangguk. Ah.. Lia memang selalu begitu, menganggapku seperti kakaknya, dia tak mau aku pulang sendirian.

Lia, mengikuti program SYAUQI (Syahrul Qur’ani ) yang diadakan Hai’ah Tahfidz Al-Qur’an jadi pagi begini adalah jadwal dia untuk setoran pada mushohihah-nya. Selesai dari Bank BRI, aku langsung menuju Masjid Tarbiyah, berniat menunggu Lia pulang sambil menyelesaikan bacaan.


Melihat mereka memeluknya dan memejamkan mata dengan mulut terus merapal ayat-ayat cinta. Aku cemburu.

Sabtu, 04 Januari 2014

My Letters : UNTUK TEMAN PERJALANAN DUA TAHUN



Apa kabar Kawan? Sudah nggak capek lagi kan? Terima kasih ya atas ajakan perjalanan dua tahun kemarin. Tahu tidak, bersama kalian semua itu serba pertama....


Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pergi dari kamarku di tanggal tiga puluh satu akhir tahun, tahun-tahun sebelumnya aku hanya di rumah bersama ayah dan ibuku, menonton acara tahun baru di tivi, dan merapal doa di jam 12 malem, tapi tahun akhir tahun kemarin ritualku lebih ramai dari biasanya. Karena ada kalian.

Istimewa. Kenapa? Selain karena bagiku ini yang pertama tapi juga boleh jadi kebersamaan kemarin itu yang terakhir bagi kita. Karena setelah hari kemarin, kita akan disibukkan dengan PKLI, skripsi lalu wisuda. Kemarin itu memang the last tapi aku harap bukan the least ya.

Perjalanan dimulai pukul 12.00 WIB sampai pukul 16.00, empat jam dan berhenti hanya sekedar ngisi bensin dan sholat. Empat jam menuju sebuah tempat yang lagi-lagi pertama bagiku. Bajulmati. Dimana dan seperti apa tempatnya? Aku sama sekali awam. Aku percaya saja, kalian lebih tahu dan tentu saja tak akan mengecewakanku dengan kebersamaan ini.

Ada dua kloter pemberangkatan, kloter pertama Aku, Aril, Najib, Suci, Fitri, Karim. Berangkat lebih dulu, beriringan,  hingga empat jam kemudian kita sampai di sebuah tempat namanya Sitiarjo dan selanjutnya aku menemukan tulisan Pantai Bajul Mati dan Pantai Ungapan. Hujan mendera, sejak di perjalanan tadi sampai ditujuan kini, hujan tak henti.


Senin, 30 Desember 2013

My Letters : UNTUKMU, MAHASISWA DENGAN SKRIPSI

Assalamualaikum Kawan, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Begitu pula denganku, alhamdulillah aku sehat. Surat ini kutulis untukmu bukan karena aku telah menyelesaikan skripsiku, sama sepertimu, aku adalah mahasiswa dengan skripsi yang bisa diartikan aku sedang menyelesaikan skripsiku. Jadi surat ini kutulis, kurang lebih juga untuk diriku sendiri.

Menjadi mahasiswa dengan skripsi, tak pernah aku membayangkan akan mengalami fase hidup seperti ini. Dulu saat aku masih duduk di semester  awal. Aku sering dicurhati kakak-kakak tingkatku tentang skripsinya. Tentang data-data yang tak kunjung ia dapatkan, tentang judul yang bolak-balik harus diganti atau tentang dosen yang susah ditemui. Semua itu diceritakan mereka padaku, selayaknya pendengar dan adik tingkat yang baik, aku pun mendengarkan dan memberi motivasi padanya bahwa ia pasti bisa menyelesaikan skripsinya. Kamu pasti bisa!

Kini saat aku berada pada posisi mereka, aku benar-benar merasakan apa yang mereka rasakan, aku merasakan apa yang dulu pernah kudengar. Dari semua yang kualami aku hanya bisa mengucap oh ternyata begini rasanya.... Ternyata begini rasanya menjadi mahasiswa dengan skripsi. Rasanya tiada hari tanpa memikirkan skripsi. Kalaupun ada waktu luang untuk sekedar dolan, pas sampai di rumah selalu ingat skripsi. Apakah kalian juga begitu?

Jumat, 27 Desember 2013

PKLI Malaysia 3, Speechless..

Alhamdulillah...
 
Ini diary nyataku, nah yang kamu baca sekarang ini diary mayaku ^_^


Aku memang tak melihat pengumuman secara langsung, tapi aku yakin Arum dan Lia tak mungkin bohong padaku. Ya Allah benarkah ini? Setelah sholat maghrib aku langsug sujud syukur. Ya Allah aku tak mimpi kan? Kau jawab doaku, terima kasih Allah.

Kutelepon ibuku..