Tampilkan postingan dengan label Shaliha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shaliha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Maret 2015

Pergunjingan Souvenir Pernikahan

Malam kemarin seperti biasanya tiap hari Sabtu, jika pemuda lain menghabiskan waktu malam mingguan bersama pacar atau keluarga mereka, mungkin di Malioboro, mungkin di resto es krim, atau mungkin menikmati nasi kucing ditemani teh hangat di angkringan. Ah pasti nikmat dan seru sekali. Tapi sekali lagi, malam minggu saya masih sama pulang kerja pukul 19.00 WIB. Tak masalah, memang jam inilah yang saya pilih untuk tetap bekerja di hari libur. Selain untuk kesibukan juga menambah penghidupan. Saya cukup menikmati malam Minggu- malam Minggu saya, karena tiap malam sama saja.

Saya biasa naik Bus Trans Jogja. Untuk sampai ke shelter (tempat pemberhentian Trans Jogja) di dekat UIN dari Jalan Veteran, saya harus naik dua kali. Pertama naik 2A dari shelter RSIA Hidayatullah turun di Kridosono, lalu naik lagi 4B turun di shelter UIN. Perjalanan ini memakan waktu 90 menit. Lama? Iya! Waktu tunggunya yang biasanya lama.

Jumat, 06 Maret 2015

Metamorfosa Jilbaber

Banyak saya temui orang yang dulunya jilbaber, tapi sekarang tidak lagi. Entah apa sebenarnya definisi jilbaber, kenapa sebutan itu ada dan terus didengungkan dari masa ke masa. Menurut pemahaman saya jilbaber adalah mereka yang memakai jilbab super lebar, tak hanya menutupi dada seperti yang sudah disyariatkan saja, tetapi sampai menutupi pantat, bahkan ada yang hampir menyentuh tanah. Tak jarang para jilbaber ini diidentikkan pada organisasi mahasiswa atau pergerakan tertentu. 

Memang tak bisa dipungkiri banyak perempuan mulai merubah penampilannya saat bergabung dengan organisasi-organisasi keislaman, baik di sekolah menengah atau saat kuliah. Rohis atau organisasi pergerakan ini memberikan pengaruh besar untuk menumbuhkan kesadaran berjilbab bagi perempuan. Tetapi tak sedikit juga perempuan yang mulai sadar berjilbab justru diluar organisasi mainstream, tetapi karena perintah orang tua, kewajiban sekolah, atas kesadaran sendiri atau termotivasi pada seseorang yang ia kagumi. Saya termasuk salah satu dari kelompok terakhir ini.

Minggu, 15 Februari 2015

Cara Menjadi Dewasa



Beberapa hari lalu ada seorang teman yang bertanya, "Rizza, bagaimana sih caranya menjadi dewasa itu?"

Kaget juga mendapatkan pertanyaan "aneh" itu. Menjadi dewasa? Kok tanyanya ke aku?

Seperti mengerti pertanyaan hati saya dia menimpali. "Iya, soalnya kamu kelihatan sudah dewasa banget, keibuan, sabar, pokoknya aku ngefans deh sama kamu!"

Oh, berlebihan bin lebay ini. Dia belum tahu ya kalau aku ngomel-ngomel, cerewet dan mrengut? Haduh, keibuan? Masak aku sudah pantas jadi ibu sih? *ngaca ah, apa mukaku uda ibu-ibu banget ya?*

Tidak! Tidak! Belum setua itu! *stress*

Tapi kan yang melihat orang lain?

Oke, fine! Dewasa, keibuan, sabar! Ah, baik semua lah itu. Dewasa semuda mungkin kan keren!
*
menghibur diri kipas-kipas*

Amin, semoga jadi doa

Hmmm... gimana ya jawabnya nih.. Cara mernjadi dewasa... cara menjadi dewasa...

Oke.. Bismillah..

1. Pikirkan kata-katamu sebelum diucapkan! Terutama jika harus berdiskusi bahkan berdebat dengan orang lain

Aku sering banget terjebak dalam hal ini, maksudku aku sering langsung menimpali pendapat teman sebelum memikirkan diksinya matang-matang. Akibatnya setelah dibaca ulang ternyata sangat kenak-kanakan. *malu euy*

Rabu, 10 Desember 2014

MENDAMPINGI KEMARAHAN



Saya selalu ngeri ketika melihat orang marah, dahinya yang mengkerut, pipinya yang memberengut, giginya yang gemeretuk, apalagi ditambah nada suaranya yang meninggi. Kadang kata-kata sengak keluar dari mulutnya dan tingkah liar dilakukannya. Ngeri sekali! Meski tak semua kemarahan seperti itu, ada pula orang yang marah dengan diam atau lebih tepatnya mendiamkan, cuek dan dingin. Orang dengan tipe marah seperti ini memang tidak mengerikan bagi saya, tapi susah dipahami apa maunya.

Adapula marah yang tidak muncul dari sikap, tapi dari tulisannya, kata-katanya. Orang yang marah biasanya tulisannya acak-acakan, sekenanya dan tak dipahami dengan jelas maksudnya, adapula yang marah dengan deskripsi yang tertata, namun jelas sekali bahwa ia marah dan kecewa. Tulisan memang sederhana, tapi ia bisa memberi banyak makna, termasuk mengatakan pada semua orang kalau aku marah, aku kecewa!

Saya mengerti, emosi memang susah sekali dikendalikan dalam keadaan tertentu, apalagi saat kondisi begitu mengecewakan dan menyebalkan, semua tidak beres, semua gagal. Rasanya seperti ada paku menghujam hati, rasanya seperti baju kumal yang diperas berkali-kali. Marah, sebal, kecewa, terluka!

Senin, 20 Januari 2014

KENAPA BERJILBAB BESAR ?



Kenapa berjilbab besar? Itulah yang sering orang tanyakan pada saya Jika mendapat pertanyaan seperti itu, kadang saya membatin begini, Kenapa kamu tanya? Ya, semua orang memang memiliki persepsi berbeda terhadap perempuan yang berjilbab besar. Pernah suatu hari saya ditegur saudara saya, Eh itu jilbabnya nggak kepanjangan? Ntar dikira istri teroris lho kamu. Perempuan yang berjilbab besar diidentikkan dengan istri teroris.

Jilbab besar juga diidentikkan dengan pergerakan tertentu, misal Hizbut Tahrir Indonesia atau yang lebih dikenal dengan HTI. Kamu anak HTI ya? Entah sudah berapa ratus kata-kata seperti itu mampir di telinga saya. Saya menjawab begini “ Bukan, saya bukan anggota HTI, emangnya kenapa?”, “Kok jilbab kamu besar?”
Glek, lagi-lagi soal jilbab besar.

Entah kenapa, orang-orang yang bertemu saya (untuk pertama kalinya) selalu menjustis saya seperti itu. Tak masalah sebenarnya. Hanya saja kenapa mereka selalu melabeli dengan organisasi tertentu. HTI? Kenapa mereka selalu menganggap HTI itu aliran keras? Yang harus ditakuti dan dihindari?

Jumat, 17 Januari 2014

MENCINTAI AL-QUR’AN SEPERTI ANAK-ANAK





Dimanakah kau letakkan dia? Di atas meja belajarmu? Atau di atas lemari? Apakah kau rutin membacanya atau hanya sekali-sekali?

Masih lekat diingatan saya, dulu saat masih SD, saya selalu dimarahi ibu jika sudah sampai jam 4 sore masih dolan, apalagi kalau pulang-pulang bau sangit karena habis main masak-masakan atau rok basah karena main air dengan teman-teman.

Bukan, ibu saya bukan marah karena saya bermain, tapi ibu saya marah kalau saya tidak mengaji. Ya, lazimnya anak kecil lain. Setiap sore habis shalat Ashar saya selalu mengaji di masjid depan rumah saya, bersama teman-teman lainnya. Setiap hari, tanpa libur, kecuali hari libur rutinan yakni hari Kamis.

Bahkan kami selalu berlomba untuk  selalu lancar membaca Al-Qur’an, hingga boleh lanjut ke halaman selanjutnya. Kami berlomba siapa paling banyak bacaannya, paling lancar bacaannya, dan siapa yang khatam Al-Qur;an duluan. Ah... ternyata masa kecil saya begitu dekat dengan rutinitas Qur’ani. Saya rasa tak hanya masa kecil saya, tapi juga masa kecil Anda.

MY LETTERS : Untuk Calon Anak-anakku

Assalamualaikum Nak, tulisan ini ibu tulis saat ibu masih berusia dua puluh satu tahun, saat ibu masih belum bertemu dengan ayahmu. Menuliskan surat ini untukmu, jauh-jauh hari. Bahkan sebelum kau ada di rahimku. Sebagai motivasi ibu untuk menjagamu, mulai saat ini.

Suatu hari nanti, saat ibu melihat dua garis merah, saat ibu merasakan bahwa ibu dan ayahmu tak lagi hidup berdua, saat itulah ibumu ini benar-benar menjadi ibu. Dan ayahmu akan dipanggil dengan sebutan ayah. Nak, meski ibu tak tahu kapan saat-saat itu terjadi dihidupku.  Ibu punya mimpi untuk itu. Ibu berdoa agar Allah memberi kesempatan ibu untuk melahirkanmu, melihatmu dan dipanggil “ibu” olehmu.

Nak, meski itu masih dalam alam impian ibu tapi ibu sudah sangat merindukanmu. Tentu saja jika ibu merindukanmu, ibu harus bersiap diri untuk menjadi seorang istri baru kemudian ibu bisa menjadi ibumu. Ibu tahu, tak mudah menjadi seorang ibu. Tapi sejak ibu mulai punya mimpi memilikimu, ibu mulai bersiap diri, menjaga diri, menjaga tubuh ini agar menjadi tempat yang nyaman untukmu nanti.

Ibu menjaga setiap makanan yang ibu makan, karena gizi yang tersimpan akan menjadi investasi untuk mengandungmu nanti. Ibu belajar memasak berbagai menu, agar ayah dan kamu selalu betah di rumah bersama ibu. Ibu belajar bagaimana agar masakan itu tak tampak biasa saja tapi menggugah selera, anak-anak biasanya suka dengan bentuk makanan yang tak biasa. Ibu belajar.