Minggu, 05 April 2015

TAK ADA SAHABAT LAMA

Tiga hari ini, saya kedatangan tamu dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dia adik kelas saya tapi sebenarnya kami seusia. Dia memanggil saya Mbak Rizza dan saya memanggil namanya. Lia. Susah bagi saya memanggil Dek Lia, karena senyatanya kami seusia. Saya tak merasa lebih senior dari dia meskipun kakak tingkatnya. Saya juga tak merasa lebih dewasa sehingga harus memanggilnya "Dek" Bagi saya, memanggil namanya sudah cukup.


Setahun terakhir menjadi mahasiswa UIN Malang, saya dan Lia tinggal dalam satu kontrakan di daerah Joyoraharjo, ada 9 orang dalam satu rumah itu. Seiring waktu kami bersembilan  benar-benar layaknya saudara. Dekat, akrab. Lia, Lala, Navis, Arum, Alak, Nada, Didi, dam Luluk.. Nama yang akan saya ingat sampai kapanpun.


Meski sudah setahun tidak bertemu ditambah lagi saya hijrah ke Yogyakarta, saya dan teman-teman tak hanya terpisah jarak. Komunikasi pun jadi jarang. Rasa-rasanya bisa berbalas sms, chatting atau komentar di status facebook sudah bahagia tersendiri. Obat kangen.


Kini diri saya sudah ada di Yogyakarta, sudah mengenal puluhan orang di kota asing ini. Tapi entah kenapa hati dan pikiran saya selalu terpaut pada Malang, kota yang sebelumnya saya tinggali empat tahun untuk menyelesaikan studi saya. Kampus, penjual makanan, aktivitas organisasi, kontrakan, tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Perbincangan seru, lucu, perdebatan sengit sampai tangisan. Semuanya masih ingat. Lekat. Saya tak benar-benar pergi dari Kota Malang. Semua hal tentangnya masih jelas terbayang.


Saya rindu. Rindu sekali dengan Malang dan seluruh isinya. Orang-orang yang pernah saya kenal dan seluruh lika-liku ceritanya. Saya selalu berdoa, semoga suatu hari nanti saya bisa ke Malang lagi. atau semoga saya masih bisa bertemu dengan orang-orang itu. Orang-orang yang menguntiti pikiran saya sampai di Yogya.


Tuhan mengabulkan doa saya. Satu persatu teman-teman saya menghubungi. Tak hanya itu mereka juga kemudian mengunjungi saya di kos. Menumpang tidur di kos saya. Karena memang sayalah satu-satunya teman yang mereka kenal di Yogya. Mungkin saya memang satu-satunya yang mereka kenal disini, mungkin awalnya saya harus berjuang sendiri. Saya bersyukur karenanya saya adalah satu-satunya tempat mereka menepi setelah selesai urusannya di kota ini. setidaknya dengan itu kerinduan saya terobati, 


Lia dalah orang ketiga. Sebelumnya ada Fifin dan Dina. Meski hanya tiga malam, tapi kehadiran mereka sudah cukup mengobati kerinduan saya pada masa lalu. Masa-masa S1. Meski sudah lama tidak bertemu, kami masih bicara secair dulu. Tak ada yang berubah, semuanya tetap sama. Meski semua teman yang berkunjung sekarang sudah tak sendiri, tapi itu tak merubah semua hal. Mereka adalah teman, sahabat yang sama.


Jarak boleh memisahkan kami, kesibukan yang semakin padat mungkin telah membuat kami lupa pernah punya seorang sahabat. Telah terpisah puluhan kilometer, telah sibuk dengan kehidupan dan mungkin sebagian sudah bersama pasangan hidup dan menikmati kehamilan. Tapi mereka tetaplah sahabat saya. Sahabat yang saya rindukan ketika jauh, namun sangat saya rasakan kenyamanannya saat dekat. 


Teman atau sahabat, dua-duanya dua lata yang mungkin bermakna berdekatan tapi rasanya tak sama. Teman mungkin bisa saya rasakan dengan mereka yang sekelas dengan saya dari SD samapai kuliah, merekalah teman-teman sekolah saya, teman kuliah saya, tapi tak semua dari mereka bisa saya sebut sebagai sahabat. Entahlah, tapi hati memang tak bisa membohongi diri sendiri. Ada rasa yang berbeda antara teman dan sahabat saya.


Sahabat, bagi saya adalah mereka yang memahami saya dan saya memahami dia. Memaklumi semua kekurangan saya dan saya memaklumi kekurangan dia. Saling menjaga, memotivasi bahkan tak canggung memarahi. Sahabat adalah mereka yang ada untuk saya saat saya benar-benar terpuruk atas cobaan hidup ini. Ada untuk membangkitkan lagi semangat saya, Saya tahu bagaimana dia hanya dari bahasa yang ia tuliskan atau yang ia tampilkan dari raut muka. Saya paham gerak gerik tubuhnya.


Sahabat, adalah mereka yang tetap mau disamping saya, ketika saya masih baru bangun tidur, rambut awut-awutan, muka kusam, bau mulut bacin bahkan kecut keringat karena belum mandi. Sahabat adalah mereka yang tahu kelakuan buruk saya tetapi mengingatkan. Yang tak ingin saya tampil buruk di depan orang lain, yang tak ingin saya diremehkan dan selalu ingin yabg terbaik untuk saya.

Perbedaan diantara kami banyak, tetapi sederet orang rasa sahabat itu telah membuat saya merasa sangat berarti, merasa dimiliki. Saya telah menuliskan definisi-definisi sahabat menurut kacamata saya, tapi sebenarnya tanpa definisi, seorang sahabat selalu dekat, Lekat dalam ingatan dan ada dalam doa.


Esok pagi, Lia akan pulang dengan kereta dan setelahnya saya akan kembali sendiri. Berkutat dengan kewajiban yang harus saya selesaikan. Saya tahu, saya harus membangun kembali hidup saya disini. Membangun kembali semangat untuk belajar, semangat untuk mengkaji dan berdiskusi serta semangat untuk bekerja. Seperti halnya yang saya punya di Malang dulu. Toh teman-teman saya disini semua baik pada saya. Hanya saja saya belum merasakan kedekatan yang sama seperti sebelumnya. Mungkin ini soal waktu. Kelak saya juga akan mengenang mereka seperti halmya saya mengenang orang-orang di Malang. Bukankah kenangan dan kerinduan adalah milik mereka yang tak bersisian?


Meski kisah kami terjalin sebelumnya, meski dulu dan sekarang ada yang berbeda pada kisah hidup masing-masing kami. Tapi bagiku, tak ada sahabat lama. Sahabat tetaplah sahabat. Kemarin, kini selamanya. Terima kasih telah berkunjung sahabat. Salam untuk Kota Malang yang selalu kurindukan. Kelak saya  akan kembali kesana, mengambil sisi hati yang tertinggal dan menggenapkannya menjadi utuh atau barangkali saya akan kesana bersamanya. Sahabat sepanjang hidup saya. Akankah dia menjemput saya ke Yogyakarta? Entahlah! Biar Tuhan yang menjawab.



Semoga kelak bisa bertemu lagi

Salam dari Yogyakarta

Rizza





1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus