Jumat, 13 September 2013

Lulus Cepat (atau) Terlambat ?



Semua orang yang mencatatkan diri sebagai mahasiswa, tentu memiliki banyak tujuan, kenapa dia kuliah, kenapa dia menjadi mahasiswa. Dan ibarat sebuah film yang selalu memiliki akhir cerita. Akhir cerita dari seorang mahasiswa adalah wisuda. Satu kata keramat yang hanya didapat oleh mereka yang telah menyelesaikan semua prosedur yang berlaku di kampusnya.

Ya, hanya wissudalah kunci yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa jika ia ingin keluar dari kampusnya. Keluar dengan sebuah gelar. Apa arti sebuah gelar? Bagi sebagian orang, gelar bukanlah yang utama, yang penting kuliah, cari ilmu, begitu katanya. Bagi sebagian yang lain, gelar amat dicari, di junjung tinggi. Namun jika kamu ingin keluar dari kampusmu tanpa wisuda, tentu banyak cara. Dan semua orang bebas memilih dengan cara yang mana dia keluar.


Seorang pemuda yang lulus tujuh semester dengan IPK cumlaude, skripsi tiga bahasa. Semua orang akan menge-cap dia adalah pemuda brilian dan sukses di akademisinya. Semua  memujinya, dan banyak yang menjadikan dia figure. Contoh bagi adik-adiknya. Sebuah teladan. Teladan yang baik.

Lain halnya dengan mereka yang lulus sebelas semester atau bahkan memilih untuk keluar dari kampusnya karena alasan tertentu, semua orang akan menge-cap dia adalah pemuda gagal, setidaknya gagal dalam kuliahnya, pandangan orang akan cenderung merendahkan. Antipati.

Tidak ada yang mau bertanya, kenapa? Kenapa dengan dirimu? Apa alasannya?  Tidak ada yang mau bertanya, semua langsung  under-estimate. Seorang kakak tingkat saya, kebetulan sekarang dia semester sembilan dan kalau dia berhasil lanjut terus, dua tahun lagi, dia baru bisa wisuda. Dia bercerita, beratnya menjadi mahasiswa tua, belajar dengan adik-adik tingkatnya. Perlakuan mereka yang berbeda,  juga anggapan orang sekitar. Kok kamu nggak lulus-lulus sih.

Belum lagi soal usia, usia yang semakin menua, dengan teman kuliah  yang tak lagi sebaya. Tentu susah bukan? Perlu perjuangan sendiri yang melebihi mahasiswa kebanyakan. Perjuangan memotivasi diri dan menguatkan hati. Ada factor-faktor tertentu yang menyebabkan mahasiswa seperti ini tidak segera menamatkan kuliahnya. Kesehatan, psikis dan factor lain, yang tidak semua orang mengerti, memahami. Bahkan pihak kampus sendiri.

Ada juga mahasiswa yang tak segera wisuda, karena tugas akhirnya yang tak kunjung selesai. Kamu males sih ngerjain skripsinya, jadi ya gitu deh. Kebanyakan justis ini yang muncul. Tidak ada yang bertanya, Kenapa dengan penelitianmu? Datanya  susah di dapat ya?. Ya, hampir di semua kampus di Indonesia memiliki jeda atau batasan waktu tertentu bagi mahasiswanya menyelesaikan skripsi. Bisa satu bulan, dua bulan, tiga bulan. Yang pasti tanggal ujian sudah ditentukan. Kalau mau uikut ujian, berarti penelitian harus sudah selesai atau terpaksa selesai.

Ya, karena sebuah kata bernama wisuda yang ditentukan waktu-waktunya. Sebuah penelitian pun juga harus selesai sesuai waktunya. Padahal, bukankah penelitian itu tak berbatas? Selama yang diperlukan untuk melengkapi jawaban rumusan atau fokus belum lengkap maka penelitian belum selesai. Bahkan dalam sebuah peneitian asing, ada penelitian yang memakan waktu bertahun-tahun. Dengan hasil penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan dan diaplikasikan nyata ke dunia. Kata seorang dosen, penelitian yang baik itu adalah penelitian yang selesai. Tuntas. Nah, selesai atau terpaksa selesai?

Tak banyak yang melihat mereka yang terlambat wisuda karena masalah penelitian ini, karena memang belum goal apa yang dicari. Pernah lihat film Ketika Cinta Bertasbih? Azam. Bukankah dia cerdas? Lalu kenapa dia menamatkan S1 Al-Azhar sembilan tahun? Karena ia kuliah sambil bekerja, menghidupi keluarganya. Kuliah menjadi nomor dua, yang penting ibu dan adik-adiknya bisa makan.  Tak sedikit mereka yang terlambat wisuda karena factor ini. Batasan waktu memang penting, untuk menjadikan sistematisnya sebuah system akademik, fungsi batasan lainnya juga untuk memotivasi mahasiswa agar segera bergerak namun jika batasan ini akhirnya benar-benar menjadi batas. Kita harus berpikir ulang.

Satu lagi, menjadi aktivis. Ya, seorang aktivis dengan aktivitas bejibun. Aktivitas sosial, pergi sana pergi sini. Urus itu, urus ini. Otak yang tak hanya berisi diktat kuliah, otak yang terus berputar setiap waktu berpikir ini itu. Mereka yang hidup untuk membantu orang lain. Membantu mengembangkan potensi, mereka yang mengabdi pada kebesaran organisasi. Hidup dan menghidupi. Memang, idealnya seorang aktivis adalah aktivis yang manis. Aktivis yang sukses  organisasinya dan mulus  karier kuliahnya. Masihkah kita membicarakan ideal jika hidup ini mengandung banyak kemungkinan?

Mungkin saja kita pernah bermimpi lulus cepat, tapi tiba-tiba ada sesuatu hal yang menjadi cobaan hidup kita, hingga perhatian tak lagi fokus pada tujuan awal. Siapa yang tahu? Selama kita masih berjalan pada jalan yang benar, entah berbatu atau gelap sekalipun, asalkan kita mau terus melangkah. Kita pasti sampai di ujung jalan. Ujung dimana kita mencari tujuan.

Lulus cepat atau terlambat? Pilih mana? Bagi mereka yang memiliki ambisi untuk lulus cepat dan bagi mereka yang punya pandangan atau pilihan lulus terlambat. Cepat atau lambat hanya soal waktu. Cepat atau lambat, tak masalah. Semua bebas memilih dan semua pasti punya pilihan. Lulus tepat waktu atau lulus pada waktu yang tepat. Semua tepat bukan?
Wallahu’alam

Teruntuk:
Mereka yang masih harus menyelesaikan sisa-sisa SKS. Tetap semangat ya, jalani saja. Insyaallah, semua yang tersisa pasti habis pada waktun

Mereka yang menunggu masa  wisuda. Selamat ya, semoga ilmu kalian berkah, bermanfaat dunia akhirat, doakan kami agar segera menyusul.

Dan bagi mereka yang tak lagi berstatus mahasiswa karena sesuatu hal. Bukankah ilmu itu tak hanya di kotak-kotak keilmuan? Ilmu itu ada dimana-mana kan? Setidaknya kalian telah mencicipi rasanya menjadi mahasiswa. Diluar sana, banyak lho yang jangankan mencicipi, mencium aromanya saja tak pernah. Kalian telah membuat keputusan besar dalam hidup. Selamat ya. Kalian hebat.

Semangat buat kita semua ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar