Kamis, 29 Agustus 2013

Aku Ingin Jatuh Cinta, Boleh Ya?

Suatu hari seseorang yang bertanya padaku, “ Rizza kamu pernah jatuh cinta?”

“Belum” jawabku pelan.                                 

“What???. Kamu serius”, “ berapa umurmu sekarang?” tanyanya excited. Ngapain ini orang tanya umur segala, batinku.

 “Dua satu” jawabku. Aku menunggu responnya masihkah se-heboh tadi atau lebih heboh lagi? Mimik mukanya kelihatan serius. Antara serius dan prihatin, entahlah..

“Kamu lesbi ya Za?’ tanyanya. Masih dengan raut serius.

“ Enak saja kamu, aku cewek tulen tahu, mana ada tanda-tanda lesbi di tubuhku? Di mataku?” Jujur aku nggak terima, enak saja Rizza yang cewek asli seratus persen dibilang lesbi.

“Kenapa kamu belum jatuh cinta, kamu pilih-pilih ya Za, awas lho Za jangan pilih-pilih. Ntar kamu nggak laku lh” katanya ceplas ceplos. Astaghfirullah, ini orang pengen sekali kutinju mukanya, “ Kenapa Za, masak nggak ada selama ini temen sekolah kamu, temen kuliah kamu. Kamu sudh kuliah hamper empat tahun, masak nggak ada satu cowok pun yang nyanthol di hati kamu” Dia menunjuk langsung ke dadaku. Sepertinya dia benar-benar prihatin, penasaran, menyalahkan.

“Nggak ada, semuanya aku anggap temen, temen kuliah, temen organisasi, temen diskusi, temen cerita-cerita. Temen. Nggak lebih, nggak kurang”

“Rizza, buka hatimu, kamu pasti bohong kan, pasti ada yang kamu suka, Cuma kamu nggak berani bilang. Iya kan, iya kan?” dia mengguncang tubuhku, senyum-senyum mencubit hidungku. Rupanya dia nggak sadar aku sudah meringis-meringis. Cubitannya itu keras sekali.

“Aku tak pernah menutupnya, cuma sampai hari ini belum ada tuh yang mengucap salam memasukinya”

“Masak? kamu itu kan baik, alus, aku rasa kamu juga nggak bodo-bodo amat, nggak jelek-jelek amat” Haduh please deh,  dia ini memuji atau ngerayu sih, kata amat-nya itu lho, ambigu antara iya dan tidak di kupingku.

“Aku takut”

“Takut? Takut kenapa?, cinta itu bukan hantu Rizza, kenapa kamu takut?” tanyanya, ada senyum aneh di bibirnya, sepertinya jawabanku tadi terdengar lucu di kupingnya.

“ Ya takut aja, aku takut jatuh cinta” Ini jujur lho, beneran aku takut jatuh cinta sodara-sodara…

“Aku takut, ketika aku jatuh cinta pada seseorang, dia tidak mencintaiku”, “lagipula mana ada sih lelaki yang jatuh cinta sama cewek namanya Rizza Nasir” kataku sangsi

“Kamu kok gitu sih ngomonya Za” kali ini dia kalem

“ Iya kan, bener kan? Semua lelaki itu melihat wanita dari fisiknya. Dari wajahnya, dari tubuhnya. Cantik, seksi. Sementara aku? Kamu bilang sendiri kan aku nggak jelek-jelek amat?” aku tersenyum. Lebih tepatnya berusaha tersenyum “ Lagipula semua mertua, ibu mertua terutama juga menginginkan anak lelakinya bersanding dengan wanita cantik, kamu juga tahu sendiri kan, aku nggak seperti kamu, aku punya kekurangan disini” kataku menunjuk kakiku.

“Rizza, aku juga punya kekurangan, tak ada satupun manusia yang sempurna”

“ Iya, tapi kalau kamu pemarah, misalnya. Kekurangamu nggak kelihatan nyata, kalau aku? Nyata sekali. Semua orang di PGMI bahkan di UIN pun tahu, cuma aku, nothing else…”, aku menatapnya “ Aku bilang begini bukan karena aku minder atau tak terima dengan kondisiku lho ya, aku sangat mencintai diriku, aku menghargainya. Hanya saja aku tahu diri, siapa aku dan bagaimana aku”

“Rizza kamu…” dia tercekat

“ Satu lagi tuduhanmu kalau aku lesbi itu sama sekali tidak benar”, aku mencubit balik hidungnya, pembalasan “aku juga tahu kok lelaki yang ganteng, sebagai wanita aku juga pernah kagum sama lelaki, eh dia kok pinter sih, baik sih, sholih sih hanya sebatas itu, nggak lebih. Sebelum pujianku pada lelaki itu tumbuh jadi rasa cinta yang seperti kamu bilang, aku sudah membunuhnya, aku nggak berani menyiramkan air. Aku takut rasa kagum itu akan berbunga menjadi cinta. Kata orang cinta itu berbunga kan? Aku takut. Aku takut jatuh cinta sama lelaki itu sedangkan dia tak mungkin mencintaiku. Buat apa aku mencintai orang, atau berharap pada orang yang dia sudah bisa dipastikan tak mungkin mencintaiku balik, ha?”

“Jujur, aku sebenarnya merasa bersalah pada semua orang yang curhat tentang kisah cintanya ke aku. Dia minta solusi ini itu tentang perasannya. Aku berhasil menanggapi curhatannya ya dari buku-buku yang pernah kubaca, juga dari kisah cinta yang pernah dilisankan pecinta lainnya, cuma itu. Aku sok-sok tahu, padahal mencicipi rasanya saja belum pernah. Aku membohongi banyak orang ya ternyata”

Dia mengelus-elus jilbabku. Sampai detik ini dia rupanya masih penasaran denganku….

“Aku takut, kamu tahu kan rasnya takut, takut yang akut. Aku takut jika aku jatuh cinta pada lelaki, dia akan tersiksa. Siapa coba lelaki yang tidak tersiksa jika dicintai wanita yang tidak dicintainya? Sementara sedetik pun dia tak ingin mencintainya. Wanita yang mencintainya itu sama  sekali nggak masuk daftar istri idaman. Kalau sudah begini, mungkin aku yang jatuh cinta padanya akan sakit, dia juga sakit kan? Aku nggak mau nyakitin orang”

“Rizza, Rizza…. Kamu ini  jangan gitu dong” suaranya tedengar aneh, mungkin dia terharu “kamu tahu tidak ada jargon cinta itu nggak harus memiliki?”

“Tahu, biasanya klien-klienku yang patah hati sering bilang gitu. Nah, makanya itu, aku takut mencintai seseorang. Selama ini aku meyakini, kalau hak mencintai itu ada di lelaki, dia yang memilih kita untuk jadi istrinya. Kita yang wanita juga punya hak untuk menolak atau menerima cinta lelaki itu. Masalahnya sampai sekarang belum ada tuh yang kelihatannya mencintaiku, mana mungkin ada? Haha” aku tertawa-tawa.

“Kamu kok bisa ketawa sih, nyebelin” dia mencubit lenganku. Rupanya temanku yang satu ini barusan les cubit mencubit kali ya. Suka banget dia nyiksa aku.

“Lho iya kan, kalaupun ada yang mencintaiku atau jatuh cinta atau kesengsem sama aku. Rizza Nasir, mungkin dia nglindur, khilaf, atau sudah nggak ada wanita lainnya, haha”

“Rizzza, cukup!!, kamu nggak boleh bilang gituu” nadanya meninggi beberapa oktaf, dia marah, gregetan sama perkataan-perkataanku barusan. Memang ini adanya kok, dia tadi tanya kan, Pernahkah aku jatuh cinta? Aku jawab lengkap beserta alasannya, kalau ini ujian lisan, pasti model jawabanku yang meyakinkan begini dapet nilai A, ya ?

“Za, jodoh itu ada di tangan Allah, semua pasti ada jodohnya, wong kucing aja ada yang jatuh cinta sama dia kok” dia memegang erat tanganku “tapi kucingnya baik-baik saja kan? Nggak ada yang aneh kan di dia?’ aku menyela dia cepat-cepat. Inilah kebiasaan burukku, menyela orang. Entah aku belum bisa memperbaikinya, tapi aku berusaha untuk itu, sangat berusaha, atau mungkin sudah gawan bayi, ya?

“Banyak contohnya, lelaki flamboyan beristri tak punya tangan, bisu, tuli, nggak punya kaki. Dia saying banget sama istrinya, anaknya juga banyak” dia tersenyum

“Kamu tahu kan Gi, aku ini sudah terlalu banyak bermimpi. Aku nggak mau lagi bermimpi seperti masa kecilku dulu, berubah jadi Barbie dan berdansa dengan Ken. Aku juga nggak mau berimajinasi akan ada lelaki yang naik kuda putih, membawa seikat mawar aneka warna dan sekotak coklat cinta seperti yang aku tulis di kisah Putri Rania. Dongeng yang kubuat itu terlalu indah untuk diriku Gi. Inilah kenyataannya”


Ya, Putri Rania adalah dongeng sederhana yang saya tulis, bercerita tentang putri kerajaan jeita yang tak segera bertemu pangeran. Syarat pangerannya sederhana dia mau membaca catatan hariannya, tapi ternyata tak ada satu pun pangeran yang dating ke rumahnya mau membacanya. Klasik banget, ya?  Kamu pengen baca? cari di google Putri Rania ZONARIZZA, insyaallah masih ada

“Entahlah Gi, aku kasihan dengan lelaki yang kucintai atau mencintaiku, kalau ada. Aku kasihan, dia pasti malu berjalan disampingku, dia pasti malu membawaku berkenalan dengan ayah dan ibunya, dengan adik-adiknya, keluarganya, teman-temannya. Aku tahu banget itu, aku paham, itu naluri setiap lelaki kan Gi?”

“ Rizza, pikiranmu kok aneh-aneh sih, bagaimana kamu jatuh cinta kalau pikiranmu masih begitu” dia mengelus dada.

“Kamu tahu Gi, aku bisa merasakan, siapa orang yang tulus mau berteman dengan aku, mau berjalan di sampingku atau mau sekedar bertatap muka denganku. Beda rasanya dengan mereka yang malu. Malu kupanggil namanya dari jauh, malu berdekatan denganku, malu berjalan disampingku, matanya melihat takut-takut ke kiri kanan, takut ada temen lainnya yang lihat. Aku bisa merasakan Gi, aku bisa bedain. Dua puluh satu tahun bukan anak kecil yang innocent dengan anggapan sekitar,  juga bukan waktu yang pendek untukku belajar mencerdaskan hati, peka terhadap apa yang dirasakan orang sekitar tentang diriku”

“Siapa orangnya, siapa ha? Sini biar kutonjok mukanya hhhh” dia mengepalkan tangannya, aku tertawa kecil melihatnya. Lucu juga temenku ini kalau lagi marah

“Eh Gi, kamu jangan marah-marah, sabar atuh Neng. Gi, kapan ya aku jatuh cinta?” Kapan aku merasakan seperti yang kamu rasakan pada calon suamimu, kapan? Ah mungkin memang aku baru bisa jatuh cinta kalau ada yang mencintaiku kali ya, haha”

“Ketawa aja terus Za, nggak lucu tauk” Gi manyun. Aku sendiri nggak tahu kenapa aku bisa ketawa disaat seperti ini, apa aku sudah gila?

“Aku percaya satu hal Gi, meski aku nggak pernah jatuh cinta sampai hari ini, suatu hari nanti aku pasti merasakannya. Dengan dia yang menikahiku, mengambil tanggung jawab atas diriku dari ayahku. Dia yang nggak malu berjalan di sampingku”

“Berarti kamu mau kalau nanti dijodohin? Kalau dia jelek, tua, bagaimana?”, “kalau saranku sih mending cari sendiri saja Za, lebih mantap”

“Cari sendiri? Bagaimana aku cari sendiri kalau aku takut jatuh cinta? Begini, lelaki yang berani melamarku, berarti dia berani mempunyai istri sepertiku, kamu tahu kan maksudnya? Menikahi wanita yang berbeda dari istri-istri teman-temannya. Dia telah berkorban seumur hidupnya untuk mendampingiku, mencoba mencintaiku, melihat bagian mana di diriku yang menarik, yang membuat dia bisa ikhlas memilikiku. Aku menghargai itu. Melamarku berarti dia memilihku, bukankah itu suatu kehormatan untuk seseorang seperti aku Gi?”

“Rizzaa, please, kamu jangan merendah terlalu rendah Za, kamu nggak serendah itu” Gi makin gregetan, entah sudah level berapa

“Menikah itu ibadah kan Gi, kalau nanti ternyata aku dijodohin beneran dan orangnya aku sama sekali nggak suka. Jelek, tua seperti katamu, asalkan ayah dan ibuku setuju,seneng sama dia,  aku nggak masalah, Nyenengin orang tua ibadah juga kan?’, “Kamu tahu sendiri kan Gi ayahku sudah sudah sangat rapuh, sakit-sakitan. Aku Cuma takut, kalau aku menikahnya nunggu aku jatuh cinta atau ada yang mencintaiku, ayah nggak sempat menikahkan aku, ayah nggak sempat menimang cucunya” pertahananku mulai runtuh, aku tak bisa lagi pura-pura tetawa, aku terisak. Gi memelukku hangat.

“Gi siapapun nanti yang menikahiku, berarti dia mau mencintaiku, kelebhanku kalo ada, juga kekuranganku yang banyak ini, aku yakin dengan dia mencintaiku, aku juga akan bisa mencintainya, bukankah wanita itu mudah luluh katamu? Dia yang mencintaiku nanti, siapapun itu. Aku akan menghormatinya, patuh padanya, berusaha menyenangkan hatinya, mendengarkan ceritanya, menyudahi lelahnya, menyembuh lukanya dan mencintainya seperti dia mencintaiku. Mungkinaku memang baru bisa jatuh cinta ketika ada yang mencintaiku kali ya

“Rizza, serius aku mencintaimu, mencintaimu karena Allah. Kamu terbaik deh pokoknya”

Heleh, gombal kamu Gi, gombalannya disimpen nanti aja, buat suamimu ya,  calon pengantin, Week” Gi, beberapa bulan lagi dia menikah. Kami berpelukan erat. Dalam dekapnya aku berkata “Gi kamu tahu nggak bagaimana doaku tentang cinta di setiap sholatku?”

“Bagaimana?”

“ Ya Allah, jodohkan aku dengan lelaki yang terbaik menurutmu untukku. Yang mencintaiku dan kucintai, yang melengkapiku dan ia tak lengkap tanpaku. Allah, aku ingin jatuh cinta, boleh ya?”

“ Iya Rizza boleh, boleh banget” Gi memeukku lebih erat, mataku basah, mata Gi,  entahah…

******

Ini adalah kisahku, entahlah, aku aneh ya Kawan, buta tentang cinta, malah ada yang bilang aku terlambat jatuh cinta, begitukah menurutmu Kawan? Kamu tahu kan alasannya kenapa, ya begitulah adanya…
Doakan aku ya, semoga aku segera jatuh cinta. Jatuh cinta itu enak,  ya? Ada bunga-bunganya, ya?. Wah….


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar